Amanah

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh. (Al-Ahzaab: 72).

Berdasarkan surat wasiat Khalifah Sulaiman bin ‘Abdul Malik yang baru wafat, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz diangkat menjadi khalifah pengganti.

Mendengar pengangkatan itu ‘Umar terkulai lemas dan berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”

Meski rakyatnya sudah membaiat ‘Umar, ia tetap merasa takut untuk mengemban amanah, sehingga ‘Umar memilih mengundurkan diri, ”Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian inginkan selain saya.”

Namun, rakyat tetap pada keputusannya. Mereka kembali membaiat ‘Umar, sehingga akhirnya ia menerima amanah itu dengan berat hati. ‘Umar kemudian berpidato, “…Saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Justru saya adalah orang yang memikul beban berat. Sesungguhnya orang yang melarikan diri dari seorang pemimpin yang zalim, dia bukan orang zalim. Ketahuilah bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam kemaksiatan.”

Sejak itu ‘Umar menjalankan amanah sebagai khalifah dengan penuh kehati-hatian. Ia tegakkan keadilan dan kejujuran. Berbagai penyelewengan—meski dilakukan oleh kerabat kerajaan—disikat habis olehnya. Sehingga dalam tempo dua setengah tahun saja, terwujud keadilan dan kemakmuran di negerinya. Begitu makmurnya, sehingga tidak cuma rakyatnya yang sejahtera, bahkan serigala pun turut merasa kenyang. Selama ‘Umar jadi khalifah, serigala tidak lagi memangsa domba-domba milik peternak, karena terpenuhi pakannya.

Apa yang menyebabkan ‘Umar memerintah dengan jujur dan adil? Takut mempertanggungjawabkan amanahnya kepada Allah. Begitu takutnya hingga ia sering menangis tersedu-sedu minta ampunan-Nya.

Fathimah binti Abdul Malik, istrinya, pernah menemukan ‘Umar sedang menangis di tempat shalatnya. “Kenapa dikau menangis wahai Khalifah?’” tanya Fathimah.

”Wahai Fathimah, sesungguhnya aku memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan aku memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Aku tahu dan sadar bahwa Rabbku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Aku khawatir saat itu aku tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Rabbku. Itulah yang membuatku menangis,” jelas  ‘Umar.

Bandingkan dengan para pemimpin masa kini. Saat mendapat amanah jabatan mereka malah menyambut dengan suka cita dan euforia. Bahkan dibumbui sujud syukur segala. Sebab mereka menganggap tahta adalah sarana untuk mendapatkan segalanya, untuk mendapat sanjungan setinggi langit dan menimbun harta setinggi gunung.

Mereka lupa betapa masih banyak rakyat kita yang miskin dan kekurangan gizi. Anak-anak kurus kering seperti jerangkong, yang dulu hanya ada di Afrika, kini hadir di tengah-tengah kita. Di sekitar kita juga ada orang seperti Supriyono, pemulung di Jakarta yang hanya bisa mendorong-dorong mayat anaknya dalam gerobak karena tak punya uang untuk menguburkan buah hatinya (Koran Tempo, 19/06/05).

Orang-orang seperti itu akan menjadi daftar pertanyaan panjang yang sulit dijawab para pemimpin yang khianat, sehingga mereka akan menyesal di pengadilan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu, “Wahai Abu Dzar, engkau itu lemah (dalam hal kepemimpinan). Sedang apa yang engkau minta adalah amanah. Dan ia (amanah itu) di hari kiamat hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan dia penuhi tanggung jawabnya.” (Riwayat Muslim).*

Sumber: Rubrik “Salam”, majalah Suara Hidayatullah, edisi Juli 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s