Beriman, Bukan Sekedar Percaya

Menurut bahasa (bahasa Arab), “iman” memang bermakna “percaya”. Namun dalam istilah agama, iman tidak sekedar bermakna percaya, melainkan “percaya dan taat”. Sebagaimana orang berobat kepada dokter. Kalau si pasien percaya bahwa orang yang dia datangi adalah benar-benar dokter yang ahli maka dia akan menaati semua perintah dokter yang berkaitan dengan upaya penyembuhannya. Ketika diberi obat si pasien akan percaya bahwa obat itu akan memberi manfaat kepadanya, sehingga dia kemudian meminumnya.

Begitu pula iman kepada Allah, dalam pengertian agama Islam tidak hanya percaya adanya Allah, tetapi juga bersedia untuk menaatinya. Kalau cuma percaya adanya Allah tanpa menaatinya, maka sama dengan orang musyrik di zaman Nabi yang mempercayai adanya Allah dan mempercayai bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, tapi mereka tidak loyal kepada Allah. Mereka lebih memilih untuk loyal kepada berhala.

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (39:38).

Ketahuilah, bahwa Iblis tidak hanya percaya adanya Allah, bahkan dia amat sangat yakin terhadap keberadaan Allah.  Bagaimana mungkin tidak yakin, karena Iblis pernah berjumpa dan berdialog langsung dengan Allah, ketika Adam baru saja diciptakan.

Waktu itu Iblis diinterogasi oleh Allah, karena dia baru saja melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam.

Inilah dialog di antara keduanya:

Allah berfirman : “Hai Iblis ,apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu merasa termasuk orang yang lebih tinggi ?”

Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.

Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari syurga, sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu sampai hari pembalasan.”

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.”

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh. Sampai hari yang telah ditentukan waktunya ( hari kiamat).”

Iblis menjawab: “Demi keperkasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (38: 75-83)

Bacalah kembali dialog di atas. Dalam dialog itu Iblis mengakui bahwa Allah ada Tuhan Penciptanya dan dia adalah ciptaan Allah dengan mengatakan, “…Engkau ciptakan aku dari api…”. Karena itu kemudian dia memanggil Allah dengan sebutan “Rabbi”(Tuhanku). Dengan demikian Iblis tidak sekedar mengakui keberadaan Allah, tetapi juga mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Penciptanya.  Bahkan pada ayat ke 82 Iblis masih menyanjung Allah dengan mengucapkan sumpah, “Fa bi ‘izzatika” (Maka demi keperkasaan-Mu).

Jadi Iblis dikutuk dan dimurkai oleh Allah bukan karena dia tidak percaya kepada keberadaan Allah atau karena tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Penciptanya, tetapi karena Dia tidak menaati perintah Allah.

Kenapa Iblis berani menentang perintah Allah? Apakah dia tidak takut kepada Allah? Ternyata takut. Sesungguhnya Iblis dan para setan pengikutnya takut kepada Allah.

8:48. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Memang aneh. Katanya mereka takut kepada Allah, tapi kenapa berani menentang perintah Allah? Dalam bahasa sehari-hari, sikap Iblis yang seperti itu kita sebut “nekad”. Rasa sombongnya membuat dia menjadi dengki kepada Adam, lalu kedengkiannya itu membuat dia berbuat nekad, membangkang perintah Allah yang sebenarnya dia takuti.

Itu sebabnya Allah murka kepada Iblis, lalu mengutuknya, menjadikan Iblis sebagai musuh-Nya, serta berjanji akan menyiksa Iblis dan para pengikutnya ke dalam neraka jahannam.

“…sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu sampai hari pembalasan…”

Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.

Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.” (38: 84-85)

Pelajaran dari peristiwa tersebut, kita harus buang jauh-jauh sifat sombong dan dengki karena akibatnya fatal, yakni seseorang akan berani menentang perintah Allah meskipun dia percaya atas keberadaan dan ketuhanan Allah, sebagaimana penentangan Iblis terhadap perintah Allah meski dia percaya betul atas keberadaan dan ketuhanan Allah. Kepercayaan seseorang terhadap keberadaan dan ketuhanan Allah tidak dianggap sebagai keimanan jika tidak disertai dengan ketaatan terhadap perintah-Nya.

Dengan kata lain, siapa saja yang tidak mau menaati perintah Allah, meski dia percaya terhadap keberadaan dan ketuhanan Allah, tidak akan dianggap sebagai mukmin (orang beriman). Dia tergolong sebagai orang yang kafir.

3:32. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

2:34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari sifat sombong, takabur, dan dengki. Wallau a’lam bis-shawab.* (Saiful Hamiwanto).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s