Gentarkan Musuh Allah!

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Al-Buruuj: 8)

 

Tragedi di Provinsi Narathiwat, Thailand, yang menewaskan 85 orang Muslim pada akhir Oktober lalu jelas mengejutkan dan melukai perasaan kita sesama ummat Islam. Kita berdoa, semoga saudara-saudara kita yang wafat dalam kejadian itu arwahnya disambut oleh malaikat sebagai arwah syuhada.

Meski begitu tragis, sebenarnya kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum tragedi itu berlangsung, sudah terjadi ratusan atau ribuan tragedi lain yang menumpahkan darah ummat Islam secara semena-mena.

Bosnia, Chechnya, Mindanao (Filipina), Kashmir (India), Myanmar, Palestina, Afghanistan, dan Iraq, adalah sebagian contoh kecil saja bagian dari bumi Allah yang tanahnya menjadi saksi pembantaian kaum Muslimin oleh orang-orang kafir.

Ini memang kenyataan pahit. Tapi demikianlah Sunnatullah-nya. Semakin kita sungguh-sungguh menegakkan ajaran Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah, semakin banyak musuh yang menghadang langkah kita, baik dari kalangan orang kafir, maupun dari kalangan Muslim yang fasiq, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Allah:

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqaan: 31).

Jadi, permusuhan yang dilancarkan orang-orang kafir kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya adalah suatu yang wajar. Bahkan itu sudah merupakan grand design yang telah Allah tetapkan sebelum Adam ‘alahis-salam turun ke bumi. Justru merupakan kejanggalan—dan pasti ada yang tidak beres—manakala ada ulama, kiai, da’i, ustadz, mubaligh atau aktivis Islam yang tidak dibenci orang kafir, tetapi malah dicintai oleh mereka.

Masalahnya tinggal sejauhmana kita mempersiapkan diri menghadapi permusuhan itu. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita menjadi masyarakat Muslim yang lemah seperti sekarang, sehingga hanya bisa bersedih dan cuma menjadi penonton saat melihat saudara-saudaranya dibantai?

Kenapa kita tidak membenahi diri sehingga punya kekuatan yang setara negara-negara adikuasa yang kafir, yang dengan kekuatan itu kita bisa membela orang-orang yang lemah? Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk membangun kekuatan yang menggentarkan musuh-musuh kita dan musuh-musuh Allah?

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfaal: 60).*

Sumber: Rubrik “Salam” pada Majalah Suara Hidayatullah edisi Desember 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s