Kita Melarat Karena Riba

Rasulullah Shallaallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu mempunyai 73 macam dosa. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (Riwayat Ibnu Majah).

Dalam Islam, perbuatan zina termasuk salah satu kabair (dosa besar). Di antara sekian banyak perbuatan zina, tentu saja menzinai ibu kandung dosanya paling berat karena perbuatan ini merupakan paduan dari dosa berzina dan dosa durhaka. Ibu adalah manusia yang telah melahirkan dan memelihara kita yang seharusnya kita muliakan.  Menzinai ibu kandung merupakan perbuatan durhaka yang sangat keji dan sangat menjijikkan.

Dahsyatnya, meski menzinai ibu kandung merupakan puncak dari perbuatan zina, ternyata dosanya hanya setara dengan dosa riba yang paling ringan. Masya Allah, kalau begitu bagaimana besarnya dosa riba yang lain?

Dalam hadits lain dikatakan, “Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripada perbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam).” (Riwayat Al-Baihaqy)

Wallahu a’lam, mengapa Allah menetapkan dosa riba besarnya sampai puluhan kali lipat dosa berzina, namun dari sisi dampaknya kita dapat melihat bahwa riba memiliki spektrum yang jauh lebih luas.

Dengan perangkat riba, pihak rentenir tidak hanya dapat menjerat seorang manusia lainnya, tetapi juga dapat juga dapat menjerat satu bangsa, bahkan puluhan bangsa dalam perangkap utang yang tak berkesudahan.

Itulah yang sedang kita alami sekarang. Sudah puluhan tahun ini bangsa kita dijerat utang oleh para lintah darat internasional, seperti Bank Dunia, IMF, CGI dan Paris Club. Dan semakin tahun bukannya semakin berkurang, sebaliknya justru semakin bertambah. Makin bertumpuk-tumpuk.

Bodohnya, setiap mendapat utang baru, pemerintah kita bukannya bersedih tapi malah bersuka-cita. Simak saja berita di televisi. Sepulangnya dari negosiasi utang baru, para anggota delegasi pemerintah kita selalu membanggakan besarnya jumlah uang yang dapat diutang. Seolah berutang adalah sebuah prestasi yang membanggakan.

Padahal untuk membayarnya kita sangat kepayahan. Bayangkan, untuk membayar angsuran utang plus bunganya, setiap tahun kita harus menguras setengah Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Sedangkan untuk membiayai pembangunan negeri ini hanya tertinggal setengahnya saja. Akibatnya, ketika ada peningkatan pada sisi pembiayaan, APBN akan mengalami defisit.

Dalam kasus terakhir, peningkatan harga minyak dunia menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk pembelian BBM. Jika harga penjualan di dalam negeri tidak dinaikkan, maka Pemerintah harus menutupi selisih harga pembelian dan penjualan itu dengan meningkatkan subsidinya.

Tapi karena APBN-nya cekak, Pemerintah tak bisa lagi meningkatkan subsidi untuk BBM. Apalagi para tuan rentenir seperti IMF tidak mengizinkan Pemerintah RI mencari alternatif lain, seperti pengurangan atau pembebasan utang. Maka jadilah kita mendapatkan bingkisan pahit menjelang Ramadhan dari Pemerintahan SBY-MJK, berupa kenaikan harga BBM hingga lebih dari 80%. Dan kita pun menjadi kian miskin dan melarat.

Situasinya memang sulit, sehingga siapa pun yang menjadi Presiden RI, suka atau tidak, ia tidak punya pilihan lain kecuali harus menandatangani SK kenaikan harga BBM.

Hanya masalahnya, kenapa kenaikannya besar sekali dan kenapa terburu-buru amat seperti orang kebelet buang air? Kenapa kenaikannya tidak dilakukan bertahap atau minimal ditunda barang sebulan dua bulan, sehingga pengeluaran kita di bulan puasa dan Idul Fitri tidak semahal sekarang?

Yang lebih menyebalkan adalah alasan yang Pemerintah kemukakan. Beberapa hari setelah kenaikan harga BBM, Hidayatullah menerima sebuah pesan singkat (SMS) dari Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) RI, “BBM terpaksa dinaikkan, agar subsidi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. Bantu awasi SUBSIDI  TUNAI kepada rakyat miskin. Terima kasih.”

Betapa naifnya penjelasan itu. Seolah-olah yang menggunakan BBM selama ini hanyalah orang kaya. Memangnya mobil angkutan umum dan kereta api yang digunakan rakyat jelata tidak menggunakan BBM? Apakah kendaraan tersebut selama ini menggunakan bahan bakar air laut?

‘Ala kulli hal, apapun alasan Pemerintah menaikkan BBM, yang pasti kemiskinan, kemelaratan, dan kesulitan hidup yang sedang kita hadapi saat itu adalah buah dari perselingkuhan Pemerintah kita dengan para lintah darat penebar riba selama beberapa dasawarsa.*

Sumber: Rubrik “Salam” pada majalah Suara Hidayatullah edisi November 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s