Mempertuhankan Hawa Nafsu


Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu… (Al-Maaidah: 49)

 

Sesungguhnya batu penghalang bagi manusia dan jin untuk tunduk patuh pada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya adalah hawa nafsu. Iblis, pemuka masyarakat jin, menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam ‘alaihis-salam karena terhalang hawa nafsunya yang menghendaki dia lebih dimuliakan daripada Adam.

Bani Israil atau kaum Yahudi melakukan kemunkaran dengan mengamandemen isi Taurat adalah juga karena hawa nafsu. Ayat-ayat yang dirasa sesuai dibiarkan tetap eksis, sedangkan ayat-ayat yang dirasa bertentangan dengan hawa nafsunya dihapus.

Hal serupa juga dilakukan oleh umat Nasrani. Para pendeta Nasrani ikut mengamandemen Injil agar sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Bagaimana dengan Al-Qur`an, apakah juga ada orang yang berkeinginan untuk mengamandemennya?

Bukan cuma ada, tetapi banyak. Mereka terdiri atas orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani, serta kalangan Muslimin sendiri yang telah terjangkiti penyakit fasiq. Mereka menerima sebagian isi Al-Qur`an yang tidak bertentangan dengan hawa nafsunya, dan menolak sebagian lain yang bertentangan dengan hawa nafsunya.

Namun sesuai jaminan Allah, mereka tidak pernah dan tidak akan pernah berhasil mengubah redaksi kalimat-kalimat dalam Al-Qur`an (lihat surat Al-An’aam ayat 115 dan surat Al-Hijr ayat 9).

Karena sadar mereka tidak mampu mengubah secara langsung redaksi ayat-ayat Al-Quran yang tidak mereka sukai, mereka menempuh cara lain, yakni menolak implementasi ayat-ayat Al-Quran yang tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka, lalu menggantinya dengan aturan-aturan dan pranata buatan manusia yang cocok dengan seleranya.

Bagi seorang Muslim yang hanif, Al-Quran adalah standar kebenaran dari Allah yang menjadi panduan dan tolok ukur untuk menilai kebenaran berbagai produk pemikiran manusia. Jika ada produk yang sesuai dengan aturan Al-Quran, maka pemikiran itu bisa diterima. Sebaliknya jika tidak sesuai dengan aturan Al-Qur`an, maka produk pemikiran manusia itu harus ditolak.

Adapun kalangan fasiqin, logika mereka jungkir balik. Mereka justru menjadikan pemikiran manusia dan hawa nafsu sebagai tolok ukur untuk menilai kebenaran Al-Quran. Mereka lebih komit pada nilai-nilai demokrasi, HAM, atau gender, daripada Al-Quran. Karenanya nilai-nilai itulah yang justru dijadikan pegangan dan tolok ukur untuk menilai ayat-ayat Al-Quran. Jika ada ayat Al-Quran yang sesuai dengan demokrasi, HAM, dan gender, mereka terima ayat-ayat itu. Tetapi jika tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut, maka ayat-ayat Al-Qur`an dicampakkan jauh-jauh.

Mereka itulah orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya, sehingga Allah membiarkan mereka menjadi sesat (lihat surat Al-Jaatsiyah ayat 23).

Sumber: Rubrik “Salam” pada majalah Suara Hidayatullah edisi November 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s