Suara Rakyat = Suara Tuhan atau Suara Setan?

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami adzab mereka disebabkan perbuatannya,” (Al-A’raaf: 96).

“Vox populi vox dei”. Ungkapan dari bahasa Latin yang berarti “Suara rakyat adalah suara Tuhan” ini sering muncul di saat menjelang dan sesudah pemilihan umum seperti sekarang.

Ungkapan tersebut kerap dipakai untuk menjustifikasi hasil pemilihan umum, bahwa siapapun yang terpilih melalui mekanisme pemilihan umum haruslah diterima dengan lapang dada, karena dia dipilih oleh rakyat, sedangkan pilihan rakyat adalah pilihan Tuhan.

Bagi para pendukung fanatik demokrasi, ungkapan itu dianggap benar seratus persen, meski mereka tak pernah tahu ‘nabi’ mana yang mengeluarkan ‘sabda’ demikian.

Bagi kita ummat Islam, tidak ada keharusan sama sekali untuk membenarkan dan mempercayai ungkapan itu. Sebab kalimat itu tidak datang dari Allah dan Rasulullah. Tetapi juga tidak ada keharusan untuk menolaknya. Karena kalimat itu bisa benar dan bisa salah, tergantung bagaimana performa rakyat yang memberikan suara itu.

Jika rakyat negeri ini adalah rakyat yang melek politik, serta sungguh-sungguh beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang Allah gambarkan dalam ayat Al-Qur`an tersebut di atas, tentu Allah tidak segan-segan untuk menuntun mereka memilih pemimpin yang terbaik. Mereka tidak mempan ditipu dan disuap oleh politisi busuk. Jika kondisi rakyat kita seperti itu, bolehlah kalau dikatakan, suara rakyat senada dengan suara Tuhan.

Masalahnya, negeri ini juga dihuni oleh rakyat yang jahiliyah dan buta politik. Di dalam kelompok ini ada koruptor, penipu, pencoleng, perampok, pezina, pemabuk, penindas, pemeras, dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang selama ini melupakan Tuhan dalam hidupnya. Mereka adalah pengikut-pengikut setan dan hamba para politisi busuk. Mana sudi Allah ‘menitipkan’ suaranya pada rakyat yang jahiliyah seperti itu? Justru suara setanlah yang sesungguhnya berada di balik suara mereka.

Karena itu, jika rakyat Indonesia masih mempercayai sistem demokrasi, maka menjadi agenda penting bagi kita untuk terus berusaha mencerdaskan rakyat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Karena hanya dengan begitu suara rakyat bisa merepresentasikan suara Tuhan, bukan suara setan. *

Sumber: Rubrik “Salam” pada majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s