Tidak PD dengan Islam

“Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi wali (penolong)-nya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maidah: 55-56)

Orang yang mendambakan kebangkitan Islam di Indonesia pasti akan kecewa menyaksikan rangkaian pemilihan umum (pemilu) di negeri ini.

Kekecewaan pertama, potensi politik ummat Islam terpencar pada banyak partai Islam dan partai berbasis massa Islam. Akibatnya partai-partai tersebut sulit untuk menjadi pemenang pemilu. Pada pemilu 2004 ini, partai Islam maksimal hanya mampu berada di nomor tiga dan empat. Padahal jika suara partai-partai itu (PPP, PKB, PKS, PAN, PBR, PBB dan PNUI) digabung, mampu meraup angka sekitar 40% suara pemilih. Lebih besar daripada suara yang diraih Partai Golkar (21,58%) maupun PDIP (18,53%).

Kekecewaan kedua, partai Islam dan berbasis massa Islam itu gagal berkoalisi untuk menghasilkan satu paket calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Mayoritas pemimpin partai-partai tersebut malah saling berebut ingin menjadi presiden negeri ini.

M Amien Rais (PAN), Hamzah Haz (PPP) dan Abdurrahman Wahid (PKB), masing-masing maju sebagai capres. Sementara Hasyim Muzadi (tokoh NU digandeng PDIP) dan Solahudin Wahid (tokoh NU digandeng Golkar) maju sebagai cawapres. Dari empat partai Islam dan berbasis massa Islam yang berhak mencalonkan capres dan cawapres, hanya PKS yang mampu menahan diri, tidak mengajukan kadernya sebagai capres atau cawapres dalam pemilu mendatang ini.

Seharusnya mereka belajar dari fenomena Poros Tengah pada Sidang Umum (SU) MPR 2000. Meski pada Pemilu 1999 partai-partai Islam dan berbasis massa Islam juga tidak ada yang menjadi pemenang dan runner up, namun karena beraliansi dalam Poros Tengah, dalam pemungutan suara di lembaga itu mereka berhasil menjadikan Abdurrahman Wahid dari PKB sebagai Presiden RI, mengalahkan Megawati.

Jika pada pemilu mendatang ini mereka berhasil mengulang kesuksesan Poros Tengah dengan membentuk koalisi partai-partai Islam dan berbasis massa Islam serta mencalonkan hanya satu paket capres dan wapres, ada harapan besar koalisi ini meraih kemenangan lagi.

Sayangnya mereka tak mengambil pelajaran dari masa lalu. Bukan karena mereka lupa, tapi karena mereka melupakan diri. Mereka lupakan persatuan antar sesama kekuatan ummat Islam. Mereka campakkan upaya musyawarah memilih satu paket capres dan cawapres. Masing-masing tak mau mengalah. Masing-masing ingin dirinyalah yang jadi presiden.

Kekecewaan ketiga, masing-masing capres tersebut menggandeng cawapres yang bukan dari partai Islam atau ormas Islam. Begitu pula cawapresnya, mau-maunya digandeng capres yang bukan dari partai Islam.

Amien Rais misalnya, lebih suka berpasangan dengan Siswono Yudohusodo, tokoh nasionalis sekuler yang mantan menteri kabinet Soeharto, ketimbang harus berduet dengan orang dari kalangan partai atau ormas Islam. Bila lima tahun lalu Amien mengibaratkan partai Islam sebagai baju yang kekecilan buatnya, belakangan dia mengibaratkan berpasangan dengan orang dari kalangan partai atau ormas Islam sebagai incest (perkawinan antar sesama muhrim).

“Saya sadar, diputar dibalik seperti apa pun, saya tetap tokoh Muslim. Saya datang dari kalangan santri. Jadi maaf kalau istilahnya agak kasar, berpasangan dengan sesama tokoh Muslim, itu bisa menjadi political incest,” ujarnya. (Kompas, 19 Februari 2004).

Itu artinya, Amien telah mengharamkan dirinya ber-wala’ (saling mendukung, menolong dan bekerjasama) dengan sesama tokoh Islam, dan menghalalkan dirinya ber-wala’ dengan orang-orang sekuler. Sebuah fatwa bagi dirnya yang kelak harus ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Hamzah Haz hampir setali tiga uang. Pada pemilu 1999, para ulama PPP banyak mengutip hadits Nabi yang melarang memilih dan mengangkat perempuan sebagai kepala negara. Tapi di tengah jalan ia nyaman saja menjadi wakil presiden mendampingi Presiden Megawati. Dan bulan silam Hamzah sempat menunggu-nunggu dilamar PDIP untuk kembali ber-wala’ dengan Megawati. Hanya karena ia bertepuk sebelah tangan, Hamzah kemudian maju sebagai capres.

Abdurrahman Wahid, tak perlu dikomentari banyak. Semua orang sudah tahu, ia lebih suka ber-wala’ dengan orang Yahudi dan Nasrani ketimbang dengan ummat Islam.

Alhasil, karena terpencarnya suara ummat Islam, di atas kertas peluang Amien, Hamzah dan Abdurrahman menjadi presiden relatif kecil. Tapi kalaulah Allah menakdirkan salah seorang di antara mereka menang, tetap tidak banyak yang bisa diharapkan dari mereka bagi kebangkitan Islam di negeri ini. Sebab, dari cara mereka ber-wala’ sudah bisa dibaca, bukan mereka orang yang akan menjayakan Islam di bumi Allah ini. Karena mereka tidak percaya diri (PD) berada dalam barisan Islam.

Bagaimana dengan capres yang lain? Tidak lebih baik.*

Sumber: Rubrik “Salam” pada majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s