Hari Raya Jum’at

Berapa banyak hari raya yang dimiliki umat Islam? Mungkin sebagian kaum Muslimin mengira hari raya yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya hanya dua, yakni ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha.

Padahal sesungguhnya umat Islam punya satu hari raya lagi, yakni hari Jum’at, yang dalam setahun terjadi 52 kali. Dan menurut Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, hari raya Jum’at ini memiliki kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah ketimbang ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha.  Sabda beliau, “Hari Jum’at adalah pemimpin hari-hari (lainnya) dan hari yang paling mulia di sisi Allah. Hari Jum’at ini lebih mulia daripada hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha di sisi Allah. Pada hari Jum’at terdapat lima peristiwa, (1) diciptakannya Adam dan (2) diturunkannya ke bumi, (3) pada hari Jum’at juga Adam dimatikan, (4) di hari Jum’at terdapat waktu yang jika (pada waktu itu) seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan, selama tidak memohon yang haram, (5) dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat. (Riwayat Imam Ahmad).

Karena itu sepatutnyalah umat Islam menyambut hari Jum’at setiap pekannya dengan sambutan yang istimewa, sebagaimana yang Rasulullah ajarkan. Salah satu cara penyambutannya adalah dengan mandi dan bersiwak atau menggosok gigi, serta memakai parfum. “Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya saat ini (hari Jum’at) adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena itu, mandilah dan kalian harus menggosok gigi.” (Riwayat Thabrani).

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak (rambut) dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan di masjid), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.”(Riwayat Bukhari).

Selain yang sudah diuraikan di atas, masih banyak amalan lain yang diwajibkan dan dianjurkan Rasulullah untuk kita tunaikan dalam rangka menyambut kemuliaan dan keagungan hari Jum’at, di antaranya adalah sebagai berikut:

* Shalat Jum’at

Dari sekian banyak ibadah yang disyariatkan pada hari Jum’at, tentu saja shalat Jum’at  merupakan ibadah yang terpenting yang tidak boleh ditinggalkan para laki-laki Muslim, kecuali bila ada halangan yang syar’i. Kewajiban ini merupakan perintah Allah di dalam al-Qur`an:

Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (al-Jumu’ah: 9).

Kepada orang-orang yang menunaikan shalat Jum’at, Allah ‘Azza wa Jalla tidak hanya memberikan pahala atas shalatnya, tapi juga memberikan bonus pahala untuk mereka yang menyegerakan diri pergi ke masjid, sebagaimana sabda Rasulullah berikut, “Apabila hari Jum’at datang, para malaikat duduk di depan pintu masjid-masjid. Mereka mencatat (kebaikan) setiap orang yang datang sesuai dengan waktu kedatangan mereka. Ada orang yang seperti berkurban unta, ada yang seperti berkurban sapi, ada yang seperti berkurban kambing, ada yang seperti berkurban ayam, ada yang seperti berkurban burung, dan ada yang seperti berkurban telur. Ketika muadzin melakukan adzan dan imam sudah duduk di mimbar maka buku catatan ditutup dan mereka masuk masjid, mendengarkan khutbah.” (Riwayat Imam Ahmad).

* Berdoa pada Saat-Saat yang Mustajab

Sabda Nabi, “Di hari Jumat, ada satu waktu, apabila ada seorang Muslim melakukan shalat dan dia memohon sesuatu kepada Allah, pasti Allah beri.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi  isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu itu hanya sebentar. (Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kapan tepatnya waktu mustajab itu dijelaskan Rasulullah pada hadits yang lain, “Pada hari Jum’at ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang Muslim yang sedang memohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu itu, yaitu akhir waktu setelah ‘Ashr.” (Riwayat Abu Dawud).

* Memperbanyak Shalawat

“Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari Jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari Jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.”  (Riwayat Imam Baihaqi).

* Memakai Pakaian Terbaik

Hendaknya disadari bahwa shalat adalah media perjumpaan seorang hamba dengan Allah Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Raja Diraja. Karena itu sepantasnyalah seorang hamba memakai pakaian terbaiknya saat menghadap Raja Semesta Alam, sebagaimana perintah-Nya, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raaf: 31)

Karena hari Jum’at adalah hari istimewa, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghendaki kita memakai pakaian yang lebih istimewa untuk shalat Jum’at dibandingkan shalat lima waktu. Bahkan beliau menganjurkan kita memiliki pakaian spesial untuk shalat Jum’at, sebagaimana sabdanya, “Alangkah baiknya kalau seorang di antara kamu membeli pakaian khusus untuk hari Jum`at selain pakaian kerjanya.” (Riwayat Abu Daud dan Imam Malik).

Juga disarankan memakai pakaian berwarna putih.  “Hendaklah kalian mengenakan pakaian berwarna putih. Sesungguhnya pakaian berwarna putih itu lebih suci dan lebih baik bagi kalian. Dan hendaklah kalian mengafankan orang-orang yang meninggal dunia dengan kain kafan berwarna putih.” (Riwayat Imam Tirmizi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim)

* Membaca surat al-Kahfi

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at.” (Riwayat Imam Baihaqi dan al-Hakim).

Dilarang Berpuasa

Selain amalan yang diwajibkan dan dianjurkan ada pula amalan yang justru dilarang untuk dilakukan pada hari Jum’at, yakni berpuasa khusus pada hari itu.

Sesungguhnya, hari Jum’at adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian (mengiringkannya dengan) berpuasa sebelum atau sesudah hari Jum’at.” (Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengikuti sunnah Rasul-Nya, meningatkan kualitas dan kuantitas ibadah di Hari Raya Jum’at. Wallahu a’lam bish-shawab.* (Saiful Hamiwanto, anggota Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Hidayatullah DKI Jakarta).

Sumber: Lembar Jum’at Al-Qalam

Referensi:

–         http://khotbahjumat.com/keutamaan-hari-jumat/

–         http://alhakim-bsd.com/islam/?p=1

–         http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/156

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s