Jihad: Ya Belajar, Ya Berperang

Jihad adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. Bukan Islam jika tanpa jihad. Tanpa jihad agama ini tidak akan eksis sampai sekarang, serta tak akan sampai kepada kita. Karena itu, sekuat apapun upaya orang kafir untuk menghapuskan ajaran jihad dari keseluruhan ajaran Islam, upaya itu tak akan pernah berhasil.

Yang masih bisa dilakukan oleh orang kafir adalah menyesatkan atau mengaburkan makna jihad, sehingga sebagian di antara kita menganut paham yang salah tentang jihad, sementara sebagian lain menjadi kehilangan semangat jihad. Salah satu cara penyesatan yang mereka lakukan adalah dengan “membutakan” pandangan umat Islam, sehingga tidak dapat “melihat”  dan memahami jihad secara utuh. Mereka memahami secara parsial (sepotong-sepotong saja). Mirip kisah beberapa orang buta meraba gajah; yang memegang telinga gajah mengira binatang itu seperti kipas; yang memegang kaki gajah mengira hewan itu seperti bambu; sedangkan yang memegang belalainya mengira hewan itu seperti ular.

Begitu juga dalam hal melihat jihad. Karena malu dan risih menghadapi propaganda Barat yang menuding Islam sebagai agama kekerasan, sebagian kalangan Muslim yang minder kemudian berupaya menampilkan citra Islam hanya dari sisi lembutnya dengan berapologi bahwa jihad dalam konteks sekarang tidak berarti perang. Departemen Agama bisa menjadi salah satu contoh pihak yang lebih suka mengartikan jihad hanya sebagai tindakan non perang. “Arti jihad adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh demi kemaslahatan umat, sehingga bagi saya, menuntut ilmu itu juga jihad, membelanjakan hartanya di jalan Allah juga jihad, mewakafkan harta juga jihad,” ujar salah seorang pejabat teras departemen tersebut, belum lama ini.

Sementara itu ada pula kalangan lain yang mengartikan jihad hanya bermakna perang fisik terhadap orang kafir, sehingga mereka terjebak pada tindakan ghuluw (berlebih-lebihan) dan ekstrimitas. Orang Muslim yang seperti ini biasanya akan melecehkan Muslim lain yang “hanya” sibuk berjihad di bidang pendidikan, bidang dakwah, bidang ekonomi, bidang politik, bidang sosial dan sebagainya. Yang mereka pandang mulia hanya Muslim yang berjuang di medan pertempuran.

Cara pandang yang parsial seperti itu jelas keliru, imma yang mengartikan jihad hanya sebagai tindakan non perang maupun yang memandang jihad semata-mata bertempur di medan perang. Seorang Muslim yang benar harus memahami jihad secara syumul (utuh/komprehensif), sebagaimana orang melek melihat gajah secara keseluruhan. Dengan begitu dia akan dapat menerima bahwa melahirkan keturunan, mewartakan kebenaran, memberantas kebodohan, membabat kemiskinan, menyikat perjudian, serta memancung kepala musuh, semuanya adalah jihad fii Sabilillah, sebagaimana dia melihat bahwa kaki gajah, belalai gajah, telinga gajah, dan gading gajah, semuanya adalah organ tubuh gajah. Asalkan semuanya dilakukan demi menegakkan ‘izzul-Islam wal-Muslimin. Selamat berjihad!* (Shw).

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s