Kok Khutbahnya tentang Surga dan Neraka Melulu?

Sumber foto: riaukita.com

Dalam sebuah khutbah Jum’at seorang khatib mengingatkan jamaahnya untuk bertakwa, seraya menjelaskan janji Allah berupa surga kepada orang yang bertakwa dan neraka bagi orang yang kafir.

Seusai shalat Jum’at, seorang jamaah yang bernama Ucrit mengeluh. “Khutbah kok isinya surga dan neraka doang! Padahal Islam kan tidak hanya membahas soal surga dan neraka saja.”

Temannya yang bernama Unyil bertanya, “Menurut kamu, apa yang seharusnya dibahas khatib?”

“Islam kan agama untuk menjadi pedoman kita hidup di dunia. Islam juga merupakan solusi atas berbagai masalah kita di dunia. Seharusnya, khatib juga membahas bagaimana Islam menyelesaikan masalah kemiskinan, ketidakadilan, pemberantasan korupsi, dan berbagai masalah kehidupan kita sehari-hari di dunia ini. Jangan cuma membahas akhirat melulu,” keluh Ucrit panjang.

“Memangnya kamu setuju terhadap konsep Islam dalam menyelesaikan berbagai masalah kemasyarakatan yang kamu sebutkan itu?” tanya Unyil.

“Kalau khatib itu bisa menjelaskan keunggulan konsep Islam untuk menyelesaikan berbagai masalah kehidupan kita, tentu kita akan setuju. Masalahnya dia tidak menjelaskan keunggulan itu, tetapi cuma berkutat pada masalah surga dan neraka,” jawab Ucrit.

“Yang kamu harapkan untuk dibahas itu adalah masalah syariah dan muamalah,” jelas Unyil. “Untuk menjalani aturan syariah itu maka seseorang harus berpihak dulu kepada yang menciptakan aturan itu, yaitu Allah, dan meyakini bahwa itulah jalan yang terbaik dari berbagai alternatif jalan yang ada. Tanpa keberpihakan kepada Allah, maka aturan syariah itu tidak akan dijalankan oleh manusia. Contohnya di negeri kita ini, para pendiri Republik ini lebih memilih aturan yang dibuat manusia daripada aturan Allah untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka. Ini karena mereka lebih berpihak kepada selain Allah daripada kepada-Nya. Jadi sebagus apapun konsep Islam, kalau mereka tidak berpihak kepada Allah, konsep itu tidak akan mereka pakai,” papar Unyil.

“Lantas apa hubungannya dengan surga dan neraka?” Ucrit masih belum mengerti.

“Dalam ajaran Islam, urusan riil kita dunia saat ini terkait erat, dan merupakan implementasi dari keyakinan kita kepada Allah dan terhadap kehidupan akhirat yang masih ghaib saat ini,” lanjut Unyil.

“Apa contohnya?” Ucrit mulai penasaran.

“Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tetangganya’.” Unyil mengutip sebuah Hadits.

Mafhum mukhalafahnya, kalau ada orang Muslim yang tidak memuliakan tetangganya, maka keimanannya kepada Allah dan hari kiamat masih belum sempurna.

“Ini ada lagi,” lanjut Unyil, “Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya’.”

Unyil juga mengutip ayat Quran, "Dalam Surat Al-Baqarah, Allah pun menyatakan hal demikian, 'Ali lam mim. Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang yang bertakwa. (Yaitu) orang yang mengimani Yang Ghaib dan meyakini kehidupan akhirat’.”

“Ayat tersebut menjelaskan, orang yang bertakwa akan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidup. Sedangkan orang yang tidak bertakwa, menolak menjadi Al-Quran sebagai pedoman hidup mereka di dunia. Mereka memilih konsep yang mereka buat sendiri. Karena orang bertakwa meyakini kebenaran Allah dan kehidupan akhirat, sehingga juga meyakini kebenaran konsep Allah untuk diimpelementasikan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan orang yang ingkar kepada Allah dan hari akhir, juga ingkar kepada konsep-Nya.” Ucrit mencoba untuk menafsirkan ayat tersebut.

“Benar!” kata Unyil menyimpulkan, “Seorang Muslim sulit untuk mengimplementasikan kewajiban sosialnya selagi imannya kepada Allah dan akhirat belum sempurna.”

“Nampaknya Pak Khatib tadi merasa jamaahnya belum sempurna imannya kepada Allah dan hari akhir?” Ucrit menebak.

“Ya Pak Khatib tadi merasa bahwa akidah dan keimanan jamaah ini masih perlu diperbaiki dan disempurnakan dulu. Setelah dirasakan sudah siap, maka beliau akan masuk pada masalah syari’ah,” sahut Unyil.

Ucrit mengangguk-angguk, mencerna perkataan sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s