IAIN: Ingkar Allah Ingkar Nabi?

Manfaat apa saja yang dirasakan ummat Islam Indonesia sejak kelahiran IAIN? Sering diidentikkan dengan para sarjana agama berpikiran nyeleneh, banyak mahasiswanya yang tidak shalat dan melakoni seks bebas. Wah.

Pluralisme, yang bisa melunturkan militansi dan kecintaan umat terhadap Islam, tenyata justru banyak berembus dari lembaga pendidikan Islam sendiri. Yang banyak dinilai berada di garis depan dalam menjalani peran itu adalah Interkenal adalah heboh kasus gerakan pembaharuan keagamaan Nurcholish Madjid yang berintikan ajaran sekularisme pemikiran.

Kasus lain, misalnya kasus Nasaruddin Umar yang pernah membela habis-habisan Anand Khrisna, tokoh spiritual lintas agama yang sering memanfaatkan simbol-simbol Islam dan menafsirkan Quran untuk kepentingan ajaran-ajaran spiritualnya. Dosen IAIN ini bahkan pernah mengundang Anand berikut para pengikutnya dari berbagai agama untuk masuk ke Masjid Fathullah, IAIN Jakarta dalam rangka menggelar kajian mereka. Lia Aminudin, yang masih heboh karena agama baru buatannya pun pernah diboyong pakar masalah gender ini ke rumah Allah itu.

Kasus lainnya adalah keterlibatan sejumlah dosen IAIN Jakarta sebagai tenaga pengajar bagi 40 SKS mata kuliah keislaman di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos. Mereka, antara lain Dr Mulyadhi Kertanegara, Dr Amsal Bachtiar, Alimun Hanif MA dan lain-lain. Uniknya, mereka tidak tahu kalau lembaga itu, dalam brosurnya, secara jelas bertujuan ingin mencetak misionaris yang akan memurtadkan ummat Islam sendiri.

Masih banyak kasus kontroversial yang muncul di tengah ummat sebagai dampak negatif dari merebaknya paham pluralisme yang tumbuh di IAIN. Tapi sesungguhnya, itu baru sebagian kecil saja, karena selain pluralisme ada sejumlah faham lain yang tidak kalah dahsyatnya dalam menciptakan kontroversi. Faham-faham itu lahir dari wacana pemikiran yang berkembang di IAIN.

Menurut, Muhammad Jamilun, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Ciputat, di Kampus Pembaharu itu, wacana-wacana pemikiran yang cukup dominan berkembang adalah Islam Inklusif, Islam Liberal dan Islam Modern. Begitu dominannya sampai pernah terbit buku tentang mazhab Ciputat. “Di IAIN Jakarta memang cukup variatif corak pikir mahasiswanya,” ujarnya.

Apa yang disebut Islam Inklusif adalah wacana tentang Islam yang terbuka dan menerima segala macam pemikiran serta keyakinan. Wacana ini bersifat lintas agama dan ideologi. Islam Liberal adalah wacana yang mengarah kepada kebebasan berfikir. Berfikir apa saja, dari sumber mana saja, dengan metode bagaimana saja, tanpa ada pembatasan-pembatasan nilai. Sementara Islam Modern mengacu kepada upaya memunculkan gagasan kemajuan yang berkiblat ke Barat.

Wacana-wacana Islam demikianlah yang lalu menumbuhkan kecenderungan elemen-elemen di IAIN, terutama mahasiswa, untuk menggandrungi sejumlah faham yang berisi pemikiran-pemikiran kontroversial. Di antara faham itu adalah Marxisme, perenialisme, sekulerisme dan rasionalisme dan lain-lain.

Marxisme adalah faham yang mengajarkan prinsip-prinsip gerakan sosial (sosialisme) bagi kaum komunis yang anti Tuhan. Perenialisme adalah faham yang mengajarkan bahwa pada dasarnya semua agama itu berasal dari satu sumber spiritual yang sama, karena itu semuanya juga benar.

Sekularisme adalah faham yang memisahkan agama dari segala urusan duniawi. Agama tidak boleh ikut campur dalam masalah-masalah keduniaan. Sedangkan rasionalisme, adalah faham yang menjadikan rasio sebagai landasan satu-satunya dalam berfikir dan bertindak, dimana segala sesuatu harus diukur dengan menggunakan pertimbangan akal semata.

Menurut Jamilun, di berbagai jenjang dan di tingkatan organisasi intra maupun ekstra IAIN memang sudah lama muncul pemikiran-pemikiran yang mengedepankan proses liberalisasi tersebut. Corak berpikir itu tumbuh sebagai upaya untuk mendekonstruksi (membongkar) kemapanan yang selama ini terjadi, baik di IAIN atau di masyarakat lebih luas “Dan itu memang riil dan faktual ada di lingkungan Ciputat,” tegas mahasiswa semester XII, Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Seks Bebas

Sudah barang tentu, dalam hukum kehidupan, aspek pemikiran merupakan landasan dari setiap perilaku. Kalau kultur pemikiran yang berkembang di IAIN umumnya liberal seperti itu, seperti apa kultur perilaku elemen-elemen IAIN, terutama mahasiswanya? Sejumlah fakta berikut ini bisa memberikan gambaran.

Beberapa bulan lalu, sepasang mahasiswa-mahasiswi IAIN Jakarta tertangkap basah sedang berzina di tempat kost mereka. Lantaran itu sekelompok mahasiswa dari LDK, menggelar kampanye anti maksiat. Akhirnya IAIN pun memecat mereka.

Menurut laporan Iqbal, aktivis kelompok itu yang melakukan investigasi, ternyata di rumah kost tersebut sudah terjadi lima kasus serupa dengan orang yang berbeda. “Cuma IAIN tidak berani mengeksposnya, karena malu,” ungkap mahasiswa jurusan Psikologi itu.

Sahid sendiri pernah menerima pengakuan dari seorang mahasiswa yang telah melakukan kumpul kebo, hidup serumah tanpa nikah, dengan seorang mahasiswi adik kelasnya. Sahid juga sering menerima laporan lain bahwa kasus-kasus hubungan haram itu, baik pacaran dan berzina, sering juga terjadi antara mahasiswa dengan warga sekitar IAIN. Begitulah memang kultur perilaku yang sekarang ini tengah berlangsung di IAIN.

Dari observasi Sahid, kultur perilaku mahasiswa IAIN, khususnya IAIN Jakarta, memang cenderung liberal dan permisif (serba boleh), dalam arti mengabaikan akhlak-akhlak Islami. Mulai dari cara bicara, berpakaian, bersikap, bergaul dan berbagai aktivitas keseharian lainnya, mereka cenderung lepas dari tuntunan nilai-nilai Islam.

Aspek ibadah juga kerap diabaikan. Tidak sedikit dari mahasiswa IAIN yang tidak lagi mengerjakan shalat karena berfikir bahwa yang penting dalam Islam itu penghayatan aspek substansi (inti), bukan pengamalan aspek formal-ritual (tata cara ibadah).

Mahasiswi berpakaian ketat pun tidak sedikit di sana. Bedanya, saat kuliah kepala mereka tertutup jilbab, itupun kebanyakan jilbab mini, tapi usai kuliah tidak sedikit mereka yang melepasnya.

Kalau mahasiswinya banyak yang gandrung dengan busana perangsang birahi, maka para mahasiswanya banyak yang gemar tampil metal, rambut gondrong, kaus oblong dan celana bolong (di lutut).

Wartawan Sahid yang meliput langsung ke IAIN Sunan Ampel, Surabaya, IAIN Sunan Gunung Jati, Bandung dan IAIN Sunan Kalijaga melihat pemandangan yang sama. Seperti halnya di IAIN Jakarta, di ketiga IAIN itu penampilan para mahasiswa dan mahasiswinya, baik di dalam maupun di luar kampus, sama saja dengan kehidupan generasi muda pada umumnya.

Di Bandung, mahasiswa IAIN malah cendrung hedonistik (mencari kesenangan nafsu), sesuai dengan kultur Bandung yang dijuluki sebagai Paris Indonesia. Tak pandang malam atau siang, mereka biasa berkhalwat (berduaan dengan yang bukan muhrim) di tempat-tempat umum seperti kelas, sekretariat, taman, masjid, perpustakaan, warung, bioskop dan lain-lain.

Pemandangan mahasiswa-mahasiswi yang boncengan sepeda motor antara yang bukan muhrim juga menjadi sesuatu yang lazim. Yang memprihatinkan, pacaran di tempat tertutup seperti di kost-kost, juga menjadi suatu budaya yang lekat di kalangan mereka.

Menurut Anwar Saleh, Ketua LDK IAIN, keadaan di atas merupakan dampak dari kultur intelektual IAIN karena pengaruh faham liberalisme para dosen lulusan Barat, terutama Harun Nasution. “Ya, kita tahu sendirilah, bagaimana kehidupan Barat yang menerapkan prinsip-prinsip kebebasan itu,” kata mahasiswa Fakultas Tarbiyah itu.

Dengan alasan untuk menjunjung obyektivitas ilmiah, metode belajar di IAIN kerap menjadi bebas nilai. “Kalian boleh memikirkan apa saja, tapi lepaskan dulu keyakinan kalian yang lama, jangan sampai kalian terkungkung,” tutur Anwar menirukan doktrin dari seorang dosennya yang dianggap liberal.

Jamilun juga tidak menafikan dampak negatif dari corak berpikir liberal tersebut. Menurutnya, pemikiran tersebut memang terimplementasikan ke dalam perilaku praktis. “Tapi saya pikir tidak semua mereka yang berperilaku liberal itu berangkat dari pemikiran yang liberal juga,” tandasnya.

Berbeda dengan pandangan itu, Ahmad Fuad Fanani, ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Ciputat menilai, budaya negatif itu bukan disebabkan oleh pemikiran liberal, melainkan karena mereka mengalami keterkejutan budaya (culture shock). Setelah di pesantren dikekang oleh berbagai peraturan mengikat, ketika menjadi mahasiswa mereka merasa bebas. “Mereka jadi biasa jalan dengan yang bukan muhrim dan mulai tidak shalat,” jelas mahasiswa jurusan Tafsir Hadits ini.

Senada dengan Fuad, DR Kautsar Azhari Noer melihat bahwa mahasiswa IAIN yang akhlaknya kurang terpuji disebabkan karena mereka belum matang dalam intelektualnya. “Mereka itu masih puber,” nilai dosen Fakultas Ushuluddin ini.

Pakar ilmu perbandingan agama itu juga membantah kalau IAIN dianggap liberal, karena menurutnya banyak juga pemikir dari IAIN yang tradisional dan moderat. Menurutnya, mungkin ada beberapa tokoh yang liberal, tapi itu kemudian dianggap mewakili seluruh IAIN, padahal di IAIN itu sendiri ada keragaman. “Untuk sebagian mungkin ya (liberal), tapi kan tidak semua produk IAIN seperti itu.” jelas penganut faham perenialisme ini.

Pernyataan Kautsar memang benar. Sejak tahun 90-an, memang sudah ada gerakan kultural yang berusaha menyeimbangkan kecenderungan ilmiah yang dominan di IAIN dengan aspek imaniyah dan amaliyah. Mereka, antara lain adalah para aktivis gerakan dakwah Tarbiyah yang merepresentasikan dirinya dalam wadah Lembaga Dakwah Kampus (LDK). “Pemikiran mereka adalah sintesis yang mencoba menawarkan perpaduan intelektualitas dengan spiritualitas dan moralitas,” nilai Jamilun.

Dalam falsafah gerakan mereka, anak-anak mushala ini bahkan juga memadukan sintesis itu dengan aspek solidaritas dan profesionalitas. Semua itu direalisasikan lewat aplikasi amal shaleh serta amar makruf nahi munkar dalam setiap dinamika keseharian mereka.

Nampaknya, gerakan kultural yang dimotori mahasiswa kalem berjenggot dan berbaju gamis serta mahasiswi berbaju panjang dan berjilbab lebar ini memang ingin membuat perubahan besar di IAIN. Kalau memang ini benar-benar akan terwujud, insya Allah plesetan IAIN di atas akan berubah menjadi “Ittiba’ Allah, Ittiba’ Nabi” (Ikuti Allah, Ikuti Nabi). Semoga.� (Deka Kurniawan, Fitra Fathurrahman)

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah, Agustus 2011. Rubrik Laporan Khusus. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s