Kok Ada Sekian Banyak Negara Arab, tapi Tidak Ada yang Bisa Mengalahkan Israel?

arab vs israel

Mungkin pertanyaan seperti di atas pernah dilontarkan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, atau bahkan mungkin pernah juga terlintas dalam benak kita.
Bukankah Israel hanya sebuah negara kecil berpenduduk 7,5 juta jiwa saja?; lebih sedikit daripada penduduk Jakarta. Sedangkan penduduk negara Arab ada puluhan atau ratusan juta. Mengapa jumlah yang banyak itu tidak dapat mengalahkan yang sedikit?

Fakta ini menunjukkan faktor kuantitas bukanlah faktor yang menentukan. Meski kuantitas bukan tidak penting, tapi ada yang lebih penting, yakni faktor kualitas.
Pelajaran tentang hal ini juga sudah Allah sampaikan sejak 14 abad silam:
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 249).

Apakah tentara negara-negara Arab tidak berkualitas dibandingkan tentara Israel?
Allahu a’lam, saya tidak punya cukup informasi untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi kita punya info yang berlimpah tentang kelengkapan dan kecanggihan mesin perang Israel. Dalam hal ini, kelengkapan dan kecanggihan mesin perang Israel jauh di atas kelengkapan dan kecanggihan mesin perang negara-negara Arab.
Jawaban lebih komprehensif bisa kita dapatkan dengan melihat sisi historis konflik Arab-Israel.

Bermula dari Perang Dunia I ketika Kesultanan Turki turut serta dalam perang itu pada tahun 1914 sd 1918. Turki beraliansi dengan Jerman, berhadapan dengan Inggris dan sekutunya.

Dalam rangkaian perang itu Turki mengalami kekalahan, sehingga kehilangan banyak wilayahnya. Sebagian besar wilayahnya di Asia Tengah diambil alih oleh Rusia. Sebagian lagi memerdekakan diri. Dan wilayah-wilayahnya di Timur Tengah banyak dicaplok oleh Inggris dan sekutunya.

Maka sejak 1918 wilayah Syam (termasuk Palestina dan Yordania di dalamnya) menjadi wilayah yang dikuasai Inggris.

Karena sebelum itu, tahun 1917, pemerintah Inggris melalalui Deklarasi Balfour telah menyetujui dan memberikan dukungan kepada para aktivis Zionis Yahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina, maka aneksasi Inggris pada wilayah Syam menjadi semacam jembatan emas bagi Zionis Yahudi untuk bercokol di Palestina.

Dukungan pemerintah Inggris itu dibalasjasai oleh komunitas Yahudi di Amerika Serikat dengan “menyeret” militer negara Abang Sam itu itu ke dalam kancang Perang Dunia I untuk membantu Inggris dan sekutunya memerangi Jerman dan Kesultanan Turki.

Sebagai langkah pelaksanaan Perjanjian Balfour, para tokoh Yahudi membentuk Komisi Zionis untuk Palestina. Pada April 1918, komisi ini sampai di Palestina, mengawali perjuangan yang berlangsung sampai tiga dasawarsa kemudian.
Sejak itu terjadi migrasi besar-besaran komunitas Yahudi dari Eropa ke Palestina. Orang-orang Yahudi itu mudah masuk Palestina karena diberi “karpet merah” oleh pasukan Inggris.

Setelah jumlah orang Yahudi di Palestina menjadi lebih banyak daripada etnis Arab, pada tanggal 6-11 Mei 1942, para pemimpin Zionis dari 18 negara mengadakan Konferensi Luar Biasa di Hotel Biltmore, New York, Amerika Serikat (biasa disebut dengan Konferensi Biltmore). Konferensi ini dipimpin oleh Chaim Weizmann dan David Ben Gurion. Konferensi ini menghasilkan resolusi yang biasa disebut dengan Program Biltmore, yang merekomendasikan agar (1) Mandat Inggris di Palestina diakhiri dan digantikan oleh Yahudi, dan (2) Palestina ditetapkan sebagai “Jewish Commonwelth”.

Program Biltmore akhirnya benar-benar direalisasikan ketika pada Mei 1948 Inggris meninggalkan Palestina dan Negara Israel dideklarasikan oleh Kaum Zionis di bumi Palestina.

Meski tentara Inggris sudah meninggalkan negeri Palestina, namun Inggris dan sekutunya (AS. Perancis, dan Rusia) tetap berkomitmen mendukung penuh eksistensi Israel di negeri hasil rampasannya itu. Dan dukungan penuh itu terus berlangsung hingga kini. Hanya saja, saat ini yang dukungan utama tidak lagi diperoleh dari Inggris, tetapi beralih menjadi dari AS.

Patut diketahui pula, ketika mengangkangi Timur Tengah, Inggris mendorong penguasa-penguasa lokal di Timur Tengah, yang semula wilayahnya berada di bawah kesultanan Turki, untuk “memerdekakan” negeri mereka dari Turki, lalu mendirikan negara-negara baru.

Maka lahirlah negara-negara Arab baru: Arab Saudi, Yaman, Yordania, Suriah, Lebanon, Irak, Iran, Mesir, Libya, Sudah, dll, atas “jasa baik” Inggris dan para sekutunya. Mudah ditebak, tentunya para penguasa baru itu jadi merasa punya hutang budi kepada pihak Barat.

Selain itu persenjataan mereka semuanya juga dibeli dari negara-negara Barat.

Maka terjawablah sudah pertanyaan mengapa dari sekian banyak negara Arab tidak ada yang bisa mengalahkan Israel.

Mereka tidak dapat mengalahkan Israel selama mereka tidak mampu mengalahkan AS dan sekutunya. Sebaliknya, mereka akan dapat mengalahkan Israel ketika mereka telah mampu mengalahkan AS dan sekutunya.

Kapan itu akan terjadi? Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s