Makna Yahudi

Pembahasan tentang makna Yahudi perlu dimulai dari Nabi Ya’kub. Beliau adalah putra Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim.

Nabi Ya’kub memiliki nama gelar Israil, sehingga keturunannya disebut Bani Israil, yang artinya keturunan Israil atau keturunan Nabi Ya’kub. Beliau memiliki 12 anak, di antaranya bernama Yusuf, yang ketika dewasanya menjadi seorang nabi. Di antara 11 saudara Yusuf ada yang bernama Yehuda.

Di kemudian hari, dari 12  anak Nabi Yakub ini muncul 12 suku Bani Israil. Namun di kemudian hari suku Yahudi, yakni keturunan Yehuda, menjadi salah satu yang paling menonjol. Bahkan pasca Nabi Sulaiman, suku Yahudi berhasil mendirikan kerajaan di Palestina bernama Kerajaan Yahudi.

Nampaknya karena dominannya peran suku Yahudi, maka bangsa Bani Israil diidentikkan dengan suku bangsa Yahudi. Selanjutnya bangsa Bani Israil yang bukan suku Yahudi ikut tergolongkan sebagai bangsa Yahudi.

Jadi sampai di sini nama Yahudi menunjukkan pada identitas bangsa keturunan Nabi Ishak. Dengan kata lain, nama Yahudi sinonim dengan nama Bani Israil.

Sampai di sini tidak ada masalah dengan Yahudi.

Pada masa Nabi Musa, sudah ada suku Yahudi, tapi waktu itu Bani Israil belum diidentikkan dengan suku Yahudi. Karena itu belum ada istilah bangsa Yahudi, pada masa Nabi Musa. Kata “Yahudi” juga tidak disebut di dalam Taurat. Istilah yang dipakai adalah bangsa Bani Israil, atau orang Israil.

Sebagian Bani Israil mengimani Nabi Musa dan kitab Tauratnya, konsisten dengan ajarannya. Mereka ini tergolong sebagai orang beriman dari kalangan Bani Israil.

Sebagian yang lain, tidak sepenuhnya mengimanani Nabi Musa dan kitab Tauratnya. Mereka menerima ayat Taurat yang sesuai hawa nafsunya, dan menolak ayat yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Setelah Nabi Musa wafat, kelompok Bani Israil pengikut hawa nafsu itu menjadi mayoritas. Mereka bahkan berani mengganti (mengamandemen) ayat Taurat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Akibatnya, kepercayaan yang dianut orang Bani Israil sudah berubah dari ajaran Nabi Musa.

Sejumlah nabi diutus Allah kepada Bani Israil agar mereka kembali ke ajaran murni Nabi Musa. Tapi mayoritas mereka menentang ajakan para nabi. Bahkan sebagiannya mereka bunuh, antara lain Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Maka jadilah mereka bangsa kafir yang dimurkai Allah.

Allah juga mengutus Nabi Isa untuk mengembalikan kemurnian ajaran Nabi Musa. Tapi orang-orang kafir dari Bani Israil ini tetap menentang utusan Allah, bahkan berusaha untuk membunuh Nabi Isa dengan memperalat tentara Romawi.

Orang Bani Israil yang beriman kepada ajaran Nabi Isa, disebut Nasrani, sedangkan yang tidak beriman kepada Nabi Isa menyebut dirinya Yahudi.

Sejak itu nama Yahudi merujuk kepada kaum kafir yang berlagak mengimani ajaran Nabi Musa–tapi sebenarnya tidak–dan tidak mengimani ajaran Nabi Isa.

Dalam kurun selanjutnya, ketika Allah mengutus Muhammad sebagai nabi, orang Yahudi juga menolak mengimaninya. Sehingga sampai di sini, orang Yahudi bermakna kaum kafir yang berlagak mengimani ajaran Nabi Musa–tapi sebenarnya tidak–dan tidak mengimani ajaran Nabi Isa serta tidak mengimanani Nabi Muhammad beserta ajarannya.

Sejak itu, makna Yahudi tidak sekedar merujuk pada nama suatu bangsa, tapi juga merujuk pada nama kelompok kepercayaan/keimanan/keagamaan, yakni mereka yang berlagak mengimani ajaran Nabi Musa–tapi sebenarnya tidak–dan tidak mengimani ajaran Nabi Isa serta tidak mengimanani Nabi Muhammad beserta ajarannya.

Lantas kenapa kepercayaan/agama  Yahudi menjadi identik dengan bangsa Yahudi/Bani Israil?

Karena memang sejak awal, Nabi Musa diutus Allah hanya untuk bangsa Bani Israil. Jadi ajaran Nabi Musa memang hanya untuk bangsa Bani Israil. Kitab Taurat juga hanya untuk bangsa Bani Israil. Ini agama eksklusif.

Kaidah ini tetap berlaku ketika ajaran Nabi Musa sudah diselewengkan oleh Bani Israil. Maka ketika ajaran Nabi Musa yang sudah diselewengkan itu dinamakan ajaran/agama Yahudi, penganutnya tetap dibatasi hanya orang Bani Israil.

Bangsa Bani Israil meyakini bahwa mereka adalah bangsa istimewa kesayangan Tuhan. Bahkan mereka mempercayai, yang benar-benar manusia adalah mereka. Bangsa lain sesungguhnya hewan yang diserupakan fisiknya dengan mereka.

Kepercayaan ini begitu menghunjam pemikiran mereka turun-temurun, termasuk kepada bangsa Israil yang secara formal memeluk agama Kristen. Fanatisme kebangsaan mereka lebih kuat daripada fanatisme keagamaan mereka.

Dalam Al-Quran, kata “Yahudi” lebih banyak dinisbatkan kepada penganut kepercayaan. Sedangkan untuk menyebut bangsa Yahudi, Al-Quran lebih sering menyebut mereka sebagai “Bani Israil”. Namun kadangkala Quran juga menyebut “Bani Israil” sebagai kelompok masyarakat yang beragama Yahudi.

Lantas kalau pada tulisan saya sebelum ini dikatakan bahwa Allah murka kepada orang Yahudi, maka Yahudi manakah yang dimaksud? Yahudi sebagai bangsa atau sebagai penganut agama Yahudi?

Sebenarnya yang dimaksud dengan kaum yang dibenci Allah adalah Yahudi sebagai penganut agama Yahudi, karena mereka telah ingkar kepada perintah dan larangan Allah. Mereka telah melencengkan ajaran Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa dan nabi-nabi sesudahnya.

Artikel Terkait:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s