Pandai Memaafkan, Buah Takwa dan Sabar

sabarMasih ingat kisah Nabi Yusuf? Ya, yang paling diingat oleh banyak orang tentang Nabi Yusuf adalah tentang ketampanannya.

Dia memang pria yang sangat tampan. Tapi bagi kita orang mukmin, keelokan wajahnya bukanlah hal yang terpenting dari kisah hidupnya. Ada hal lain yang lebih penting untuk dijadikan teladan bagi kita. Apakah gerangan? Mari kita review kembali kisah teladannya.

Korban Rasa Iri

Di masa kecilnya, Yusuf tinggal bersama orangtua dan saudara-saudaranya di daerah Kan’an (wilayah Palestina). Ayah mereka, Nabi Ya’qub, sangat mencintai Yusuf.

Hal itu membuat abang-abangnya merasa iri terhadap Yusuf.Para saudara seayahnya (beda ibu) itu mengira, ayah mereka hanya sayang kepadaYusuf dan Bunyamin (adik kandung Yusuf); tidak sayang kepada mereka.

Maka untuk merebut kasih sayang ayah mereka dari Yusufdan Bunyamin, kesepuluh abangnya itu kemudian merencanakan upaya mengenyahkanYusuf dari mereka. Ada yang mengusulkan untuk membunuh sang adik. Tapi akhirnya mereka hanya bersepakat untuk membuang Yusuf ke dalam sebuah sumur kering.Mereka berharap, Yusuf kemudian dibawa oleh orang yang menemukannya di dalam sumur itu.

Setelah meminta izin Nabi Ya’kub, mereka mengajak Yusuf bermain ke luar kampung mereka, tapi kemudian mereka membuang membuang sangadik ke sumur tua. Untunglah Yusuf ditemukan rombongan musafir, yang kemudian menjualnya sebagai budak di Mesir.

Banyak pengalaman hidup yang dialami Yusuf di Mesir. Setelah sempat mendekam di penjara selama bertahun-tahun karena difitnah seorang istri al-‘aziz (pejabat tinggi) Mesir, singkat cerita, akhirnya Yusuf berhasil menjadi orang dekat raja Mesir dan mendapat amanah sebagai khazainul ardhi (pejabat urusan logistik negara).

Setelah sekian tahun berlalu, negeri Palestina dilanda kekeringan, sehingga penduduknya mengalami krisis pangan. Keadaan paceklik itu juga dialami oleh keluarga Nabi Ya’qub.

Mereka kemudian mencari bantuan pangan ke negeri tetangganya, yakni Mesir. Termasuk dalam rombongan pencari bantuan pangan itu adalah para saudara Nabi Yusuf.

Ketika para abang dari Yusuf itu ikut berbaris mengantri,sang adik yang telah menjadi pejabat tinggi Mesir itu dapat mengenali mereka.Tapi para saudara senior itu sudah tidak mengenali Yusuf lagi.

Mereka berkata kepada Yusuf, “Wahai Al-‘Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga. Maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami dan bersedekahlah kepada kami…”

Bagi banyak orang, keadaan seperti yang dialami Nabi Yusuf adalah kesempatan untuk melakukan aksi balas dendam. Ketikaitu Yusuf sedang menjadi al-‘aziz (pejabat tinggi) negara Mesir,sedangkan saudara-saudaranya hanya jadi rakyat jelata negeri tetangga yang sedang mengiba-iba meminta bantuan, sehingga mudah saja bagi Yusuf jika maumenunaikan dendamnya. Dia tinggal melakukan sedikit rekayasa untuk mengkriminalisasi para saudaranya itu.

Tapi Yusuf tidak memilih untuk membalas dendam. Dia hanya memberikan kejutan dengan mengatakan, “Tahukah kalian, (kejelekan) apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian bertindak jahiliyah?”

Pertanyaan itu membuat mereka terkejut, sehingga balik bertanya, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?”

Yusuf menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku.”

Pengakuan Yusuf membuat mereka teringat pada kejahatan yang telah mereka lakukan terhadapnya. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa mereka menyadari kedudukan Yusuf yang tinggi dalam pemerintahan Mesir, sehingga kondisi itu akan menjadikan Yusuf mudah membalaskan dendamnya. Itu sebabnya mereka segera mengaku bersalah.

Namun Yusuf bukanlah orang yang sembarangan. Allah telah memilihnya menjadi nabi dan menjadi teladan bagi manusia. Nabi Yusuf telah memberikan teladan kepada kita dengan memberi maaf kepada orang-orang yang pernah menzaliminya, dengan mengatakan, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf [12]: 92).

Membalasatau Memaafkan?

Tidak ada orang yang suka dizalimi orang lain. Jika mampu membalas, secara naluriah, seseorang akan melakukan tindakan balasan kepada orang yang menzaliminya. Jika saat itu dia tidak mampu membalas, biasanya diaakan menyingkir, lalu menunggu kesempatan untuk suatu saat membalasnya.

Sebenarnya ajaran Islam membolehkan orang yang dizalimi untuk melakukan qishash (pembalasan), asalkan pembalasannya sepadansaja. Jangan melakukan pembalasan yang lebih kejam.

Masalahnya, manusia sering terjebak pada tindakan yangberlebihan. Ketika dia mampu membalas, dia akan melakukan tindakan balasan yang lebih keras daripada kezaliman yang pernah menimpanya. Ada orang yang karena ditegur jadi tersinggung, lalu membalas dengan membakar rumah. Ada juga yang karena merasa dihina, kemudian tega membunuh dan memutilasi.

Ketika ada seorang kafir yang melecehkan Rasulullah dengan ucapan, “Assamu ‘alaikum (semoga kau binasa),” beliau terlihat hanya memilih diam. Tetapi Aisyah yang berada di samping beliau, secara spontan takbisa menahan marah dan menimpali, “Wa ‘alaikum sam wa laknatullah  (semoga kau juga binasa dan mendapat laknat Allah).”

Rasulullah kemudian menegur ‘Aisyah, karena menurutnya jawaban itu berlebihan. Menurut beliau, kalau pun ingin membalas yang sepadan,cukup dengan mengatakan, “Wa ‘alaikum (dan kalian juga (binasa)).”

Membantu orang yang pernah membantu kita adalah sikap yang adil. Membalas kezaliman orang yang pernah berbuat zalim kepada kita juga sikap yang adil. Namun memaafkan dan membantu orang atau kaum kerabat yang telah menganiaya adalah ihsan. Dan kita tidak hanya diperintah untuk berlaku adil dan tapi juga berlaku ihsan.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ihsan(berbuat kebajikan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dariperbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl [16]: 90).

Buah Sabar dan Takwa

Ketika al-‘aziz Mesir itu membenarkan kesadaran saudara-saudaranya bahwa dirinya adalah Yusuf, beliau melanjutkan pengakuan nyaitu dengan mengatakan, “Sungguh Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidakmenyia-nyiakan balasan untuk orang yang berbuat ihsan.”

Dengan kalimat itu Yusuf menjelaskan, bahwa dirinya selamat dari tindakan makar saudara-saudaranya—bahkan kemudian menjadi al-‘azizdi Mesir—adalah merupakan nikmat karunia dari Allah, disebabkan dia konsistendalam ketakwaan dan kesabaran. Dia juga menjelaskan, perbuatan ihsan akan dibalas oleh Allah dengan kenikmatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Berbekal ketakwaan dan kesabaran pula Yusuf kemudian mampu berlaku ihsan dengan memberikan maaf kepada saudara-saudaranya.  Bahkan Yusuf kemudian memohonkan ampunan kepada Allah untuk saudara-saudaranya.

Dalam kisah ini Nabi Yusuf memberi contoh tentang kesabaran yang terbaik. Yakni bersabar ketika mendapat perlakuan zalim, dengan tidak berputus asa dari rahmat Allah, serta bersabar untuk tidak membalas tindakan zalim saudaranya ketika dia dalam posisi mampu untuk membalaskezaliman itu.

Memang tidak mudah untuk mengikuti kesabaran yangdicontohkan Nabi Yusuf. Karena harus didahului dengan memupuk ketakwaan pada diri kita. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, maka semakin indah kesabaranyang mampu dilakukannya.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Aamiin. (Hanif Hannan, anggota Dewan Syura Hidayatullah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s