Strategi Setan Menyesuaikan dengan Potensi Manusia Sasarannya

'Vila Hidayatullah'

 

Kata seorang ustadz dalam sebuah siaran radio dakwah:

Setan menyesuaikan strategi godaannya dengan potensi dan kelemahan manusia yang hendak digodanya.

Jika manusia sasarannya adalah orang yang lemah semangatnya dalam beragama, maka setan akan terus menghasut orang itu agar terus lemah semangatnya dalam beragama. Dihasudnya agar orang itu selalu menyukai kelalaian dalam beragama.

Jika kelalaiannya sudah sangat jauh, setan menghasudnya agar berputus asa dari rahmat Allah, sehingga dia berprasangka buruk kepada Allah dengan mengatakan, “Percuma saya bertaubat dan minta ampun, karena dosa saya sudah terlalu banyak. Pasti tak akan diampuni Allah.” Maka jadilah dia enggan bertaubat kepada Allah,

Jika manusia sasarannya adalah orang yang tinggi semangatnya dalam beragama, maka setan akan mengajaknya berlebih-lebihan dalam beragama, sehingga melebihi daripada yang dituntun oleh Rasulullah.

Karena ingin mengabdikan sepenuh hidupnya kepada Allah, orang yang berlebihan dalam beragama ingin shalat tahajud semalam suntuk tanpa tidur, padahal Rasulullah mencontohkan shalat tahajud setelah beliau tidur terlebih dulu.

Agar tak terganggu masalah keluarga, orang yang berlebihan ingin tidak menikah, sehingga bisa full time mengabdi kepada Allah. Padahal Rasulullah seluruh hidupnya dalam rangka pengabdian kepada Allah, tetapi beliau menikah dan memiliki anak serta cucu.

Kepada orang yang berlebihan, setan juga membuat jebakan agar orang berlebihan dalam satu hal dan meremehkan dalam hal lain.  Jika dia sangat peduli syariat, setan akan mengajak dia menganggap seolah-olah hanya madzhabnya yang benar; yang lain salah dan harus dibabat habis. Orang lain tidak dijawab salamnya hanya lantaran celananya tidak cingkrang seperti mereka. Seolah-olah surga hanya untuk golongan mereka.

Jika ada orang sangat peduli tarekat, setan akan menghasudnya bahwa hanya dengan bertarekat dia akan menempati maqam yang mulia, jauh di atas orang-orang yang tidak bertarekat. “Karena engkau memahami hakikat (esensi) beragama, sedangkan orang lain hanya sebatas syariat,” hasud setan.

Orang yang mulia menurut mereka adalah orang beribadah kepada Allah tanpa pamrih masuk surga dan selamat dari neraka. Inilah syair salah seorang dari mereka:

“Yaa..Allah..Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, campakkan aku darinyaTetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau tutup keindahan wajah-Mu.”

Padahal kata Allah, orang yang paling mulia pada sisinya adalah orang yang bertakwa (al-Hujurat: 13, al-Baqarah: 212). Kepada orang yang beriman dan bertakwa, dalam banyak ayat Quran, Allah menjanjikan balasan (pamrih)  berupa pahala, ampunan, dan surga (Lihat 3:15; . 13:35; 15:45; 16:30-31; 19:63; 19:72; 19:85; 24:52; 25:15; 26:90; 38:49; 39:10; 39:20; 39:73, dst)

Bahkan Allah tidak menyuruh manusia untuk sekedar berusaha  mendapatkan surga, tapi menyuruh manusia bergegas/bersegera untuk mendapatkannya. (Lihat  3:133; 3:198)

Allah juga menghendaki manusia takut pada ancaman siksanya:

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.(39:16. )

Orang yang pamrih kepada Allah dicibir sebagai orang yang memperlakukan Allah sebagai pedagang. Padahal melalui Al-Quran memang Allah mengajak manusia melakukan transaksi tijarah (perniagaan).

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan (dengan Allah) yang tidak akan merugi, (35:29.)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (61:10).

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (61:11-12)

Kepada orang yang sangat tekun beribadah, setan terus memuji-mujinya dengan berkata, “Kamu memang orang yang paling tekun beribadah. Tidak ada orang di negeri ini yang dapat melebihi ketekunanmu dalam beribadah. Lihatlah orang itu shalatnya asal-asalan saja, sedangkan kamu sangat khusyu’ dan khidmat,” sehingga orang itu ‘ujub’/narsis/kagum pada kesalehan dirinya sendiri dan berharap agar orang lain juga kagum terhadap kesalehannya, sampai suatu ketika dia terjebak pada perbuatan riya’ (beribadah karena ingin dikagumi manusia).

Akhir kata, marilah kita perhatikan peringatan Allah agar kita tidak tertipu oleh hasudan setan, termasuk saat kita beramal kebajikan:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.  Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (31:33)

Wallahu a’lam bis-shawab

Jakarta, 6 Desember 2012

Diposting ulang dari:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s