Untuk Apa Kita Diciptakan?

Ketahuilah, bahwa kita adalah makhluk yang tidak punya kekuatan apa-apa di hadapan Allah.

Sebelum kita menjadi manusia, kita adalah mudhghah (segumpal daging) di dalam rahim ibu kita. Sebelum itu kita adalah nuthfah (sperma) yang ditumpahkan dari ayah kita ke dalam rahim ibu kita, untuk bersatu dengan ovum (sel telur) ibu kita, hingga menjadi ‘alaqah (zygote yang menempel pada dinding rahim ibu). Hal yang sama dialami oleh seluruh anak dan cucu Adam di seluruh dunia.

Karena itu, semua manusia berasal dari nuthfah Kakek Adam dan ovum Nenek Hawa. Nenek Hawa, Allah ciptakan dari bagian tubuh Kakek Adam. Ada yang mengatakan, bagian tubuh yang diambil dari Kakek Adam adalah tulang rusuknya, sehingga ada yang mengira-ngira tulang rusuk Kakek Adam berkurang satu ruas, karena dipakai sebagai bahan baku penciptaan Nenek Hawa.

Namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, yakni teknologi kloning, orang tahu bahwa untuk menghasilkan sebuah individu baru, seorang ahli biologi hanya membutuhkan satu sel punca (stem cell) dari tubuh individu induk, tidak perlu bahan sampai mengambil sebongkah tulang. Dan kita sadar bahwa Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih hebat “teknologi”-Nya daripada ahli biologi manapun yang telah Dia ciptakan. Karena itu, penciptaan  Nenek Hawa dari tubuh Kakek Adam menjadi sangat mudah dipahami oleh manusia zaman modern.

Kakek Adam diciptakan Allah dari saripati tanah liat yang membusuk. Kita tidak tahu kenapa Allah memilih jenis tanah yang seperti itu sebagai bahan baku untuk menciptakan Adam, sehingga akhirnya dipandang rendah oleh Iblis dan kaumnya dari bangsa jin. Namun dalam dunia biologi dan pertanian diketahui bahwa kondisi tanah yang demikian itu memiliki unsur hara berupa mineral yang banyak, sehingga tanaman subur di atasnya. Dan kita tahu tubuh manusia membutuhkan sangat banyak unsur mineral.

Jadi sebelum menjadi manusia, pada mulanya Adam bukan apa-apa. Dulu dia cuma partikel-partikel minenal yang tercerai berai di dalam tanah. Tidak ada istilah yang Allah berikan pada partikel-partikel mineral yang masih tercerai berai itu. Bahkan hingga kini pun tidak ada manusia yang menamai dan berusaha menamai partikel-partikel yang terserak itu. Dulu kita bukan apa-apa.

Andai Tuhan tidak berkehendak menjadikan partikel-partikel itu sebagai manusia, maka sampai kini dan sampai kapan pun kita hanya merupakan partikel.

Bahkan pada mulanya partikel mineral itu pun tidak ada. Sehingga jangankan bendanya, namanya pun belum ada. Andai Tuhan tidak berkehendak menciptakan partikel-partikel mineral itu, maka kita benar-benar menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah ada, bahkan dalam bentuk partikel sekalipun.

Tapi jarang manusia menyadari hal ini, meski sudah Allah jelaskan di dalam al-Quran:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (al-Insan [76]:1).

Pada ayat berikutnya, Allah memberitahu bahwa sesudah kejadian Kakek Adam, manusia diciptakan dari setetes sperma yang bercampur.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (al-Insan [76]:2)

Allah tidak memberitahu sperma itu bercampur dengan apa. Meski begitu, info itu sudah mengoreksi pemahaman masyarakat pada masa lalu yang mengira bahwa faktor genetis hanya berasal dari benih laki-laki. Di abad modern manusia tahu, bahwa mereka terjadi karena ada percampuran antara sel bapak dan sel ibu.

Yang perlu disadari dan diingat, Allah ciptakan manusia dari percampuran sperma dan ovum itu tanpa ditanya sebelumnya apakah dia mau jika dijadikan sebagai manusia. Manusia tidak diberi pilihan apakah akan menjadi laki-laki atau perempuan, kuat atau lemah, sehat afiat atau sakit-sakitan, pintar atau bodoh, sempurna atau cacat, kelak jadi orang kaya atau miskin. Kita tidak pernah ditanya, hendak dilahirkan dari ibu yang mana, terpancar dari sperma bapak yang mana, terlahir sebagai bangsa apa.

Kita hanya pernah ditanya ketika masih menjadi sebuah sel yang tersimpan di balik tulang sulbi bapak kita, tentang kesaksian terhadap ketuhanan diri-Nya:

Allah Swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka, apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu. (Al-A’raf [7]: 172-173)

Manusia mulai diberi pilihan ketika sudah lahir ke dunia, lalu perlahan-lahan akalnya berkembang hingga mencapai fase aqil baligh (mencapai kesempurnaan perkembangan akalnya). Pada saat itulah manusia dipersilakan memilih bersyukur atau kufur.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (al-Insan [76]:3).

Tapi pilihan itu pun bukan tidak ada dampaknya. Setiap pilihan itu ada konsekuensinya. Allah membantah persangkaan yang seperti itu:

23:115. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Jawaban atas pertanyaan itu dapat kita temukan pada ayat berikut:

10:30. Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.

Untuk itulah kita diciptakan, dihidupkan dan dimatikan. Yakni menjalani ujian di dunia, lalu mendapatkan transkrip nilainya di Padang Mahsyar.

67:2. (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Jakarta, 15 Desember 2012

Diposting ulang dari https://www.facebook.com/hamiwanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s