M Choirul Sholeh Effendie, Ayah Para Bayi dan Anak Terlantar

khoirul sholeh “Dia memang jelek, tapi bagi saya, dia adalah mutiara”

Sebuah stasiun televisi menayangkan berita mengenaskan. Di Jawa Tengah ada bayi dibuang. Tragisnya, isi perut bayi itu kemudian menjadi santapan anjing.
Nun jauh di sana, tepatnya di Sidoarjo, Jawa Timur, seorang laki-laki matanya berkaca-kaca menonton berita itu. Hatinya pilu. Padahal, dia sama sekali tak punya hubungan apapun dengan bayi itu. Rasa kemanusiannya terpanggil.
Sejak saat itulah (2004), dia berjanji, bakal merawat bayi dan anak-anak telantar.“Saya bersumpah tak akan menolak bayi yang diberikan kepada saya,” tegas M Choirul Sholeh Effendie, nama laki-laki itu.
Tak hanya itu, Gus Mat, demikian dia akrab dipanggil, bahkan aktif mencari bayi dan anak yang malang. Bila mendengar ada bayi yang dibuang, segera dia melesat mencari dan membawa pulang bayi itu, sekalipun berada di luar kota.
Pernah ada pengemis akan menggugurkan kandungannya. Pengemis itu sebenarnya tak mau, tapi dipaksa oleh suami keduanya. Rupanya, bayi yang ada dalam kandungan itu hasil hubungannya dengan suami pertamanya. Mendengar kabar itu, pria kelahiran Sidoarjo 39 tahun lalu ini, menemui pengemis itu dan bikin perjanjian. “Biaya kehidupan dan asupan gizi saya tanggung sampai melahirkan, asal tidak digugurkan,” katanya.
Setelah lahir, bayi itu kemudian dia rawat hingga sekarang, bersama bayi-bayi malang yang lain. Ada sekitar 37 bayi dan balita (bayi dibawah usia lima tahun) yang kini dia rawat. Asal-usul anak-anak itu beragam. “Yang ini saya ambil dari comberan,” kata Gus Mat. “Yang ini saya temukan di WC,“ katanya lagi menunjuk bayi yang lain. Anak yang lain lagi, ada yang kiriman polisi dan orang lain. Sebagian lagi hasil ‘hunting’ Gus Mat sendiri.
Tidak semua anak itu normal, ada pula yang cacat. Ada yang bisu dan ada juga yang kerdil. “Dia memang jelek, tapi buat saya, dia mutiara,” kata Gus Mat menunjuk anak kecil bertubuh kerdil yang bernama Maryam.
Itu bukan berarti Gus Mat membeda-bedakan. Dia memperlakukan semua anak dengan penuh kasih sayang, bagai anak kandungnya sendiri. Semua anak memanggilnya ‘ayah’. Seperti saat Suara Hidayatullah wawancara. Tiba-tiba ada lima anak ‘menyerbu’. “Ayah…..ayah….,” kata mereka merajuk kepada Gus Mat. “Sebentar-sebentar, ke sana dulu ya…, Ayah lagi ada tamu,” kata Gus Mat sabar. Anak-anak itu pun menurut pergi.
Gus Mat sendiri dikaruniai tiga orang anak, buah perkawinannya dengan Ayu Inayatal Jalilah. Mereka adalah M Iqbal Alawy Maulana (10), M Robert Tijani Saifun Nawas (6) dan Namira Zahra Putri (7 bulan). Menurut Gus Mat, hubungan anaknya dengan anak-anak asuhnya baik-baik saja. Anak-anaknya bisa mengerti, bahkan mereka biasa bermain bersama. “Saya katakan pada anak-anak, mereka itu tidak punya ayah dan ibu, kan kasihan. Karena itu ayah ambil. Nah, kalau mereka sakit, Ayah juga ikut sakit,’” katanya menjelaskan kepada anak-anaknya.
Gus Mat tinggal di sebuah ruangan, gandeng dengan ruang bayi itu, di komplek Pondok Pesantren Millinium Roudlotul Jannah, Sidoarjo. Gus Mat adalah pimpinan pesantren yang menampung anak-anak yatim dan dhuafa itu. Sebelum merawat bayi-bayi tak berdosa itu, pesantren yang arsitektur bangunannya bernuansa etnik itu telah menampung sekitar 150 santri. Semuanya gratis, baik biaya makan maupun pendidikan.
Ruang tinggal Gus Mat dengan ruangan bayi itu, dihubungkan dengan sebuah pintu. Dengan begitu, kata pria yang ‘hanya’ lulus SMA ini, dia bisa lebih gampang menengok para bayi itu, kapan saja. “Kalau terjadi apa-apa, saya bisa mendengar dan langsung melihatnya,” katanya. Sebaliknya, anak-anak asuhnya juga biasa bermain-main di ruangan pribadinya. “Bahkan kadang tempat tidur saya dipakai smack down mereka,” katanya menambahkan.
Karena menganggap sebagai anaknya sendiri, Gus Mat tak pernah mengijinkan anak asuhnya diadopsi oleh siapa pun. Pernah, kata Gus Mat, dirinya didatangi oleh orang kaya yang ingin mengadopsi salah seorang anak asuhnya. Untuk itu, tawarannya tak main-main. Yakni, pergi umrah dan membangun salah satu bagian pesantrennya senilai Rp 70 juta. “Tapi, saya tetap tak mau. Biar ditawar berapa pun. Saya anggap, anak-anak ini merupakan amanah dari Allah. Jadi, tak akan saya lepaskan begitu saja amanah itu,” katanya.
*Kemudahan*
Gus Mat merasakan, setelah ia mengadopsi bayi, bantuan Allah SWT seperti air mengalir. Semakin banyak bayi yang dirawat, semakin deras bantuan itu datang. Misalnya pembangunan pesantren, justru banyak terjadi setelah dia merawat dan membesarkan bayi. Bahkan, pembangunan dan pembelian tanah justru terjadi ketika Gus Mat baru saja mengadopsi anak yang kondisinya sangat menyedihkan.
Sedangkan pembangunan aula pesantren dan pengecoran lantai tiga terjadi setelah dia baru saja mengadopsi anak yang lahir prematur dan kemudian dibuang. Selain itu, pembebasan tanah pesantren terakhir terjadi setelah dia mengangkat seorang anak kerdil yang dibuang ibunya. “Sebelumnya, pemilik lahan tidak mau dan saya pun tidak punya uang,” tuturya. Ajaib, begitu mengangkat anak kerdil itu, tiba-tiba si pemilik lahan setuju pindah dan dia sendiri mendapat rezeki.
Namun Gus Mat buru-buru menegaskan, bahwa dia mengadopsi anak bukan untuk mencari rezeki. “Cuma, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas, Allah akan membantu kita,” katanya.
Begitu yakinnya terhadap pertolongan Allah SWT, Gut Mat tidak pernah mengedarkan proposal selembar pun. “Saya takut dosa,” ujarnya. Maksudnya, proposal biasanya dikirimkan kepada orang yang dianggap mampu. Harapannya tentu saja dia berkenan memberi sumbangan. Kalau kemudian nyatanya dia tak membantu, bisa jadi kita jadi su’uzhan’ “Nah, itu kan dosa,” katanya
Gus Mat juga mengaku, dia tak punya banyak donatur tetap. “Paling jumlahnya hanya tujuh, yang lain tidak tetap,” ujarnya. Lantas bagaimana mengatasi masalah pendanaan?
Dia hanya bersandar kepada bantuan Allah SWT. “Kalau bersandar pada kekuatan akal, saya bisa stres setiap hari,” katanya. Dia, katanya, menyerahkan semuanya kepada Allah SWT, dengan memperbanyak dzikir dan ibadah. Allahlah yang kemudian mengatur, entah lewat jalan mana.
Pernah, cerita Gus Mat, ada seorang ibu keturunan Cina datang kepadanya membawa anak remajanya. Si ibu merasa pusing tujuh keliling, karena anaknya tak pernah menurut pada dirinya. Bahkan cenderung menentang. Gus Mat hanya bilang, “Biar dia tinggal di sini (pesantren) saja.” Rupanya, si anak menjadi ketakutan dengan ‘ancaman’ itu. Sejak saat itulah, dia berubah menjadi anak baik. “Dan sejak itu pula, orangtuanya kerap membantu saya,” kata Gus Mat. Begitulah salah satu cara Allah SWT membantu hamba yang dicintainya. (Bambang S/Suara Hidayatullah)

sumber: Majalah Suara Hidayatullah, rubrik Profil Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s