Kereta Api Percuma

Naik kereta api, tut-tut-tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

 

kereta api

Anda tau lagu tersebut kan?
Ya, ini memang lagu kanak-kanak. Pada masa kecil tentu kita akrab dengan lagu ini, termasuk juga saya. Rasanya waktu kecil saya cukup sering menyanyikan lagu tersebut. Namun seingat saya, ada satu kata dalam lagu tersebut yang menurut saya—sewaktu masih kanak-kanak—tidak tepat ada di situ, yakni kata “percuma”.
“Kalau percuma, kenapa diajak naik kereta api?” tanya saya kepada ibunda saat saya masih kelas 1 SD.

Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, kata “percuma” bermakna “sia-sia”, “tidak berguna”, atau “tidak bermanfaat”. Sehingga dengan makna itu penggunaan kata “percuma” pada lagu di atas jadi terasa janggal.

“Dia memang anak nakal, sehingga percuma saja dimarahi, dia akan tetap membandel,” demikian salah satu penggunaan kata “percuma” sehari-harinya. Maknanya, tidak ada gunanya memarahi anak nakal, dia akan tetap membandel.

Tapi ternyata kata “percuma” dalam bahasa Indonesia juga bermakna “tidak dipungut bayaran”. Hanya saja masyarakat kita dewasa ini tidak lagi lazim memaknai seperti itu. Untuk makna tersebut, orang Indonesia lebih terbiasa menggunakan kata “gratis” yang kemungkinan kita serap dari bahasa Belanda, atau kata “cuma-cuma”.

Ya, kata “cuma-cuma” sama maknanya dan dekat strukturnya dengan kata “percuma”, tapi entah kenapa kita lebih suka menggunakan kata “cuma-cuma” atau “gratis” daripada kata “percuma” untuk menjelaskan makna “tidak dipungut bayaran”,

Di negara tetangga kita, Malaysia, yang bahasanya serumpun dengan kita, konon masyarakatnya justru biasa menggunakan kata “percuma” untuk menjelaskan maksud “tak berbayar”. Saya tak tau apakah mereka juga terbiasa menggunakan kata “cuma-cuma” untuk maksud yang sama—Anda yang pernah ke Malaysia mungkin bisa menjelaskan pertanyaan ini? Namun karena mereka bukan bekas jajahan Belanda, rasanya saya bisa memastikan mereka tidak akrab dengan kata “gratis”. Sebagai bekas jajahan Inggris, tentu mereka lebih akrab dengan kata “free”.

Semoga tulisan ini tidak percuma—baca: ada manfaatnya—Anda baca. Dan Anda boleh menyebarkan tulisan ini dengan percuma—baca: tanpa bayar—juga.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s