Kalau Tak Ada Setan, Apakah Manusia Tidak Berbuat Jahat?

Meski tak ada setan, manusia dapat berbuat jahat, sebagaimana manusia dapat menjadi orang pintar, meski dia tak pernah belajar pada seorang guru.

Kenapa begitu?

Karena pada hakikatnya, setan adalah guru. Hanya saja, dia bukan guru yang mengajarkan kebaikan, tapi guru yang mengajarkan keburukan. They are the black teachers.

Atas kehendak Allah, manusia didesain memiliki potensi berbuat baik dan potensi berbuat buruk.

Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

Karenanya dia dapat menjadi orang baik atau jahat, tergantung dari sejauhmana dia menghidupkan potensinya itu. Jika dia hidupkan dan tumbuh kembangkan potensi baiknya, maka jadilah dia orang baik. Tapi jika sebaliknya,  dia hidupkan dan tumbuh kembangkan potensi buruknya, maka jadilah dia sebagai orang buruk/jahat.

Nah, di situlah fungsi setan. Dia mengambil perang penting dalam proses menghidupkan dan menumbuhkembangkan potensi buruk manusia, bahkan dia menumbuhsuburkan potensi buruk itu.

Sejajar, namun berlawanan arah dengan kerja setan, para guru kebaikan, mulai dari Allah Sang Pencipta, para nabi, para ulama, para orangtua, dan para guru, berperan penting dalam proses menghidupkan, menumbuhkembangkan, dan menumbuhsuburkan potensi potensi kebaikan seseorang.

Selanjutnya tergantung pada masing-masing manusia, ingin mengikuti guru yang mana, guru kebaikan atau guru keburukan.

“Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 257)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

“Yang dimaksud dengan kegelapan-kegelapan adalah kesesatan, sedangkan yang dimaksud dengan cahaya adalah petunjuk. Adapun thaghut yaitu syaitan-syaitan.” (Zaad al-Masiir [1/263] asy-Syamilah)

Jadi sekali lagi, setan berperan sebagai guru kejahatan/keburukan bagi manusia.

Fungsi guru adalah mendidik dan mengajar. Fungsi belajar-mengajar adalah mempercepat seseorang mendapatkan ilmu. Dia tidak perlu mencari sendiri ilmu itu, tapi langsung mendapat transferan dari ilmu yang telah didapat orang lain.

Tanpa setan, manusia dapat berbua jahat/buruk, tapi lama untuk dapat berbuat jahat. Dia perlu berfikir mendalam untuk mendapatkan gagasan dan ilmu kejahatan. Setan datang untuk mempercepat proses itu. Mereka ajarkan manusia berbuat jahat, agar manusia tak lama-lama berfikir dan mendapat ilmu kejahatan.

Dengan kata lain, setan adalah provokator, mentor, motivator dan katalisator (pemercepat) manusia berbuat jahat.

Allahu a’lam bish-shawab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s