Tatkala Manusia Surga Lupa pada Kenikmatan di Surga

Sebagai makhluk hidup manusia punya kebutuhan berupa pangan, sandang, dan tempat tinggal, untuk kelangsungan hidup diri masing-masing.

Allah Sang Pemberi Rezeki tidak cuma memberi makanan kepada kita. Diiringkannya makanan itu dengan rasa lezat yang beraneka macam. Kita diberi lidah oleh-Nya, dan dijadikannya lidah itu dapat mencecap rasa lezat makanan yang masuk ke mulut kita.

Padahal seandainya Allah tidak memberi rasa lezat pada makanan, demi kelangsungan hidupnya, manusia akan tetap mencari dan memakan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Bahkan jika tidak bisa lewat mulut, dicari cara lain untuk memasukkanmya ke dalam tubuh. Lihatlah saudara-saudara kita yang sedang terbaring sakit. Di antara mereka ada yang kehilangan nafsu makan karena sakitnya dan sebagian yang lain kehilangan kemampuan untuk makan karena kehilangan kesadaran. Namun dokter dan keluarga yang merawatnya menggunakan berbagai cara untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya, apakah melalui selang nasogastrik, infus, transfusi, atau cara lainnya. Entah bagaimana caranya, yang penting makanan harus masuk ke tubuhnya. Agar dia tetap hidup.

Manusia juga mau-maunya mengkonsumsi obat, meskipun rasanya pahit dan punya efek samping, demi kelangsungan hidupnya.

Manusia juga punya kebutuhan untuk kawin, untuk kelangsungan hidup spesiesnya, bangsanya, sukunya, dan keluarganya. Karena sifat kasih sayang-Nya pula, Allah memberikan bonus berupa kenikmatan kepada manusia yang melangsungkan perkawinan, baik kenikmatan ruhani maupun kenikmatan jasmani.

Padahal seandainya tidak ada kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia yang berkawin, manusia tetap akan melangsungkan perkawinan, demi kelangsungan eksistensi spesiesnya. Lihatlah saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan keturunan melalui proses senggama, mereka kemudian mengupayakan perolehan keturunan melalui cara inseminasi, metoade bayi tabung, dan sebagainya, yang tentu saja tanpa disertai rasa nikmat hubungan biologis.

Kesimpulannya, makan dan minum adalah kebutuhan. Tujuan utamanya adalah melangsungkan kehidupan individu manusia. Sedangkan rasa nikmat dari makan dan minum sesungguhnya bukan tujuan orang makan dan minum. Itu hanya bonus dari Allah.

Tapi yang terjadi, betapa banyak manusia yang makan dan minum demi mendapatkan kenikmatan, meski makanan dan minuman itu tidak bermanfaat bagi kesehatan dan kelangsungan hidupnya.

Betapa banyak orang yang merokok, demi mendapatkan sensasi dari asap daun, meski jelas-jelas merugikan kesehatannya. Bahkan ada yang kecanduan mengkonsumsi narkoba meski itu mengancam jiwanya.

Betapa banyak manusia mengejar kenikmatan seksual dengan melakukan zina, meski perbuatan itu merugikan dirinya, merugikan orang lain, dan merusak peradaban manusia.

Mereka terjebak pada kenikmatan dunia. Kenikmatan yang akan menghancurkannya, karena tidak mengikuti tuntunan Allah dalam menikmati karunia-Nya.

Mereka mengabaikan kenikmatan akhirat. Padahal kenikmatan dunia hanya sebentar dan sedikit, sedangkan kenikmatan akhirat melimpah ruah dan kekal.

Di akhirat, manusia tidak butuh makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya. Manusia penghuni surga tidak akan mati, karena mati hanya sekali ketika di dunia, meski tidak makan dan minum. Mereka juga tak akan merasa lapar, karena rasa lapar hanya ada di dunia. Tapi di sana manusia sibuk makan dan minum, sekedar untuk mendapatkan kenikmatan. Di sana manusia sibuk berpesta dan berhura-hura sepanjang masa, tanpa kenal lelah dalam arti sesungguhnya.

Manusia surga disetting tak pernah kelelahan. Maka mereka tak pernah istirahat. Tak pernah tidur. Kerjanya hanya bersenang-senang dari satu pesta ke pesta lainnya, bertamasya dari satu surga ke surga lainnya.

Pernahkan Anda diundang presiden untuk berjumpa di istananya? Kepada mereka yang pernah, bagaimana perasaannya, senangkah? Banggakah?

Seorang kawan saya pernah memajang fotonya saat berjumpa dengan Presiden dan berselfie dengannya. Banggakah dia?

Pastilah! Jika tak bangga, buat apa dia pajang foto itu dan disebar di media sosial?

Nah, kelak di surga, para penghuninya akan diundang ke sebuah balai pertemuan, untuk berjumpa dengan Allah Sang Kaisar, Raja Diraja, Presiden Alam Semesta.

Senangkah?

Ketika para penghuni surga berjumpa dengan Tuhan mereka, mereka merasakan kenikmatan yang luar biasa, sehingga mereka lupa pada kenikmatan-kenikmatan surga yang selama ini telah mereka rasakan.

Maka tidakkah kau ingin berjumpa dengan Zat Yang Maha Agung itu?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s