“Kenapa Gajah Gak Punya Sayap?”

Pertanyaan tebak-tebakan itu pernah dilontarkan kawan saya di masa kecil dulu. Saya dan kawan-kawan saya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan berbagai ragam jawaban, namun intinya kami mencoba menjelaskan apa sebabnya para gajah ditakdirkan tak bersayap. Sayangnya semua jawaban dianggap salah oleh si penanya.

Setelah dirasa tidak ada yang mampu menjawab, akhirnya si penanya memberitahukan jawaban yang dianggapnya benar. “Karena kalau gajah punya sayap, lantas dia hinggap di atap rumah kita, maka rumah kita akan runtuh (karena tak kuat menahan beban),”

Kami tertawa mendengar jawaban itu, seraya berkata dalam hati, “Kenapa tak terfikirkan jawaban itu olehku? Padahal jawabannya gampang.”

Pertanyaan dalam hati tersebut tidak ada jawabannya saat itu. Hingga akhirnya terlupakan.

Setelah sekian lama berlalu, saya baru menemukan jawabannya (telmi nih smile emotikon ). Yakni karena terjadi perbedaan dalam memaknai kata “kenapa” antara si pembuat tebak-tebakan dan kawan-kawannya. Orang yang diberi tebak-tebakan mengartikan “kenapa” sebagai kata tanya untuk menanyakan sebab, tapi orang yang memberi tebak-tebakan mengartikan “kenapa” sebagai kata tanya untuk menanyakan akibat.
Belakangan saya jadi bertanya, siapakah yang benar pada kasus di tebak-tebakan itu?

Menurut KBBI, “kenapa” adalah kata dalam bahasa percakapan sehari-hari yang digunakan sebagai kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan.
Namun dalam percakapan sehari-hari kita kerap mendengar orang menggunakan kata “kenapa” yang dijawab dengan penjelasan tentang akibat. Misalnya, “Kenapa kamu bersikap keras dalam mendidik anak?” Dijawab, “Karena kalau tidak keras, mereka jadi manja.”

Menurut saya sih, jawaban seperti itu tidak salah mutlak, tapi menunjukkan ada kesalahan logika pada penjawabnya. Harusnya kan dijawab dengan sebabnya dulu, baru ditambahi keterangan tentang akibatnya. Alternatif jawaban yang lebih logis, “Karena saya ingin anak-anak saya punya jiwa disiplin dan bermental kuat. Kalau saya tidak keras dalam mendidik, saya khawatir mereka jadi manja.”

Kembali pada tebak-tebakan tentang gajah, kenapa dia tak punya sayap, harusnya jawabannya begini, “Karena oleh Penciptanya memang dirancang tanpa sayap. Hikmahnya, kita tidak khawatir rumah kita dihinggapi gajah.”

Tapi kalau jawabannya begitu jadi gak lucu ya. Padahal orang bikin tebak-tebakan supaya ada suasana gembira, meskipun terkadang gak cocok dengan logika. smile emotikon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s