Mengikuti Kata Hati atau Kata Allah?

Pada suatu hari seorang kenalan berkata, “Saya menolong orang itu atas dorongan hati nurani saya saja, bukan karena suruhan Allah.”

Saya coba koreksi pernyatannya, dengan mengatakan, “Sebaik-baik dorongan hati, masih jauh lebih baik perintah Allah.”

Karena ada kalanya bisikan hati manusia keliru di mata Allah.
Kalau hanya mengandalkan kata hati, tentu Nabi Ibrahim tak mau menuruti perintah Allah menyembelih anak kandungnya. Begitu juga Nabi Ismail, tak mau lehernya disembeleh.

Tapi bapak dan anak yang shalih itu lebih memilih mematuhi perintah Allah daripada logika dan kata hatinya.

Sedangkan Iblis lebih memilih mengikuti kata hatinya, bahwa dia lebih mulia daripada Adam, sehingga menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam.

Kalau menuruti kata hati, orang enggan pergi berperang, karena berisiko mati terbunuh. Sedangkan orang yang menuruti kata Allah, bersedia pergi berperang meski kelak akan gugur sebagai syuhada.

Dalam Al-Quran, Allah terangkan, kadangkali hati manusia membenci sesuatu, padahal itu baik di mata Allah, dan baik bg manusia. Sebaliknya, kadangkala hati manusia menyukai sesuatu, padahal itu buruk di mata Allah, dan buruk bagi manusia.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [2.216]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s