Kematian Masih Jauuuuuuuuh? Padahal Waktu Begitu Cepat Berlalu

(Khusus 40 Tahun Ke Atas)

Di masa kecil dulu, sekitar awal 1980-an, saya sering penasaran memikirkan tahun 2000.

“Apa yang terjadi pada tahun 2000 nanti?” demikian salah satu pertanyaan yang kerap muncul di benak saya.

Barangkali terinspirasi film kartun Inspector Gadget (atau James Bond?), saya dan adik saya sering berkhayal bahwa pada tahun 2000 orang-orang sudah bisa berkomunikasi tatap muka dengan menggunakan gadget.

Pada masa itu saya merasa tahun 2000 masih jauuuuuh. Masih 20 tahun lagi.

Tapi seperti tanpa terasa, atas kehendak Allah, umur saya sampai juga pada tahun 2000, dan sekian tahun kemudian bisa merasakan komunikasi dengan video call seperti yang dikhayalkan dulu.

Masa 20 tahun ternyata cepat saja berlalu.

Dan kini kita telah 14 tahun lebih kita meninggalkan tahun 2000. Lagi-lagi, seperti tanpa terasa kita lewati tahun 2000.

Dalam kurun 30-an tahun ini, satu per satu, orang-orang di sekitar kita pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Ada teman dan sahabat kita, bahkan ada juga orang-orang terkasih dari keluarga kita. Dan suatu saat nanti tibalah waktunya diri kita sendiri yang mengalami kematian itu.
Masalahnya, kita bisa menghitung jarak waktu antara tahun 1980 dengan tahun 2000, tapi kita tak bisa menghitung jarak waktu antara saat ini dengan saat kematian kita nanti.

Mungkin ada di antara kita yang masih punya jatah waktu hingga 20-30 tahun ke depan, atau lebih dari itu. Dan mungkin pula ada yang tinggal 1-2 tahun, atau 1-2 bulan, atau 1-2 hari ke depan saja.

Tapi berapa pun waktu yang tersisa untuk kita hidup di dunia ini, waktu kematian itu semakin dekat. Andaipun kita masih diberi umur hingga 30 tahun mendatang, waktu 30 tahun itu juga akan berlalu dengan cepat, seperti cepatnya waktu kita melewati tahun 2000.

Bukankah kita merasa kayaknya baru kemarin kita melewati masa remaja? Kita masih ingat, waktu itu kulit kita masih kencang dan mulus (meskipun wajah penuh jerawat smile emotikon ) dan rambut kita masih hitam bercahaya.

Waktu tadi pagi kita bercermin, bukankah sudah mulai tampak gurat-gurat keriput pada wajah kita? Rambut pun sudah mulai berkilau perak.
Bukankah keriput dan uban itu merupakan clue-clue dari-Nya bahwa Si Doi sudah mulai kangen pada kita?

Bukankah si asam urat, diabetes, hipertensi, astma kronis, dan berbagai penyakit sudah mulai akrab pada tubuh kita? (Dan itu artinya badan kita sudah mulai soak, dan tunggu giliran masuk “gudang”)

Ketika menjenguk teman yang tergeletak di ranjang rumah sakit, tidakkah kita berfikir bahwa hal itu bisa terjadi pula pada kita?
Ketika takziah pada handai taulan yang wafat, tidakkah teringat bahwa kita akan dapat gilirannya juga?

Dengan tanda-tanda itu, apakah kita merasa kematian itu masih jauuuuuh, sehingga kita masih ntar-ntar dulu dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s