Matematika Pahala dan Dosa

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, bersabda,  “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut , ‘Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini).

Orang Muslim

Berdasarkan hadits tersebut, jika engkau seorang Muslim, maka berlaku matematika sebagai berikut:

  1. Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, namun engkau tidak jadi melakukannya maka engkau mendapat satu poin amal kebaikan.

Rumusnya:

Pahala niat = amal shalih x 1 = 1 amal shalih

 

  1. Jika engkau Muslim dan engkau berniat membuat amal kebaikan, kemudian engkau jadi melakukannya maka engkau mendapat 10 sampai dengan 700 poin amal kebaikan.

Rumusnya:

Pahala amal shalih minimal = amal shalih x 10 = 10 amal shalih

Contohnya, jika engkau  bersedekah Rp 1 juta, minimal engkau dinilai oleh Allah seolah-olah bersedekah Rp 10 juta.

Rumus Pahala amal shalih ideal= amal shalih x 700 = 700 amal shalih

Contohnya, jika engkau  bersedekah Rp 1 juta, engkau mendapat penilaian ideal oleh Allah, sehingga dinilai seolah-olah engkau bersedekah Rp 700 juta.

Itu baru perhitungan untuk satu kali amal shalih di bulan biasa. Bagaimana jika seorang Muslim melakukan amal shalihnya di bulan Ramadhan yang dijanjikan berlipat ganda? Kita tidak tahu berapa kelipatan yang Allah berikan pada bulan Ramadhan. Tapi kalau boleh kita andaikan kelipatannya 10 kali lipat bulan biasa, maka seseorang yang berinfak Rp 1 juta di  bulan Ramadhan dengan menyempurnakan segala persyaratannya, maka dia akan mendapatkan penilaian seolah-olah berinfak Rp 7 milyar.

Rumusnya sbb:

Pahala amal shalih ideal di bulan Ramadhan = amal shalih x 700 x 10 = 7000 amal shalih

Ada juga pahala maksimal, yakni tak terhingga nilainya.

Rumusnya:

Pahala amal shalih maksimal= amal shalih x ∞ = ∞ amal shalih

 

∞ = lambang matematika untuk bilangan yang tak terhingga

Salah satu amal shalih yang Allah janjikan balasan tak terhingga bagi orang yang melaksanakannya adalah berpuasa.

  1. Jika engkau Muslim, berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka dia dinilai melakukan satu kebaikan.

Pahala membatalkan rencana amal buruk = amal buruk  x -1 = 1 amal shalih

Kira-kira begini contoh perhitungannya:

Jika seseorang berniat mencuri seekor kambing, kemudian tidak jadi melakukannya, dia dinilai seolah berinfak seekor kambing.

  1. Jika seorang Muslim berniat melakukan keburukan kemudian dia melaksanakannya, Allah menilainya melakukan satu keburukan.

Rumus:

Dosa melaksanakan amal buruk = amal buruk x 1 = 1 amal buruk

 

Orang Kafir

Bagaimana perhitungan pahala dan dosa untuk orang kafir?

Jika dia berniat melakukan kebaikan tapi tidak jadi melakukannya, maka dia tidak mendapat penilaian apapun. Bahkan jika dia jadi melakukan kebaikan, dia dinilai tidak melakukan kebaikan apapun, meskipun kebaikan yang dilakukannya sangat banyak.

Rumusnya:

Pahala amal shalih = amal shalih x 0 = 0 amal shalih

Jadi sekalipun dia melakukan 1.000 kebaikan, dia tidak akan mendapatkan pahala sepeser pun,  karena dia mendapatkan faktor pengalinya bilangan nol. Kita tahu, dalam ilmu matematika, bilangan berapa pun besarnya akan bernilai nol jika dikalikan angka nol.

Amal shalih orang kafir tetap akan dicatat, tetapi dia tidak mendapatkan poin pahala. Andaikan kelak di akhirat ada orang kafir bernama si B yang tercatat melakukan sejuta kebaikan, dan sedikit melakukan perbuatan buruk, misalkan amal buruknya 1.000, dia akan merasa sangat rugi, karena sejuta kebaikan itu akan dinilai nihil, sedangkan amal keburukannya tetap diperhitungkan.

Perhitungan untuk si B ini adalah:  (1.000.000 x 0) – (1000 x 1) = 0 – 1.000 = – 1.000.

Allah berfirman:

“Orang-orang kafir itu semua amal mereka sia-sia. Semua yang mereka lakukan laksana fatamorgana di sebuah lembah. Orang-orang yang kehausan menyangka bahwa fatamorgana itu  adalah air. Ketika mereka mendekati tempat itu, mereka  tidak mendapatkan air sedikitpun . . . .” (An-Nur ayat 39)

Itu sebabnya di dalam Al-Quran dikatakan kelak orang kafir akan merasa rugi dan menyesali kekafirannya.

…Mereka itu (orang kafir), amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [18: 103-105]

Bandingkan perhitungannya jika sebelum matinya si B masuk Islam. Maka amal shalihnya akan diperhitungkan. Andaikan amal shalihnya mendapat kelipatan hanya 10 x, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

(1.000.000 x 10) – (1000 x 1) = 10.000.000 – 1.000 = 9.999.000

Nilai itu akan semakin besar jika mendapat angka kelipatan 700. Ini perhitungannya:

(1.000.000 x 700) – (1000 x 1) = 700.000.000 – 1.000 = 699.999.000

Jauh sekali perbedaannya antara poin yang diperoleh si B, jika dia kafir dan jika dia mukmin.

Itulah sebabnya dikatakan dalam Al-Quran, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (Al-Mukminun ayat 1).

Kemudian bandingkan dengan orang Muslim yang impas amal baik dan amal buruknya. Misalkan si A selama hidupnya melakukan 1.000 kebaikan dan 1.000 keburukan.

Jika tidak menggunakan matematika yang ditetapkan Allah, sekedar menggunakan logika adil menurut manusia, poin atau skor untuk Si A adalah:

(1.000 x 1) – (1.000 x 1) = 0

Namun jika menggunakan rumus matematika Allah, andaikan tiap kebaikan A hanya mendapatkan kelipatan 10, maka poin yang dia dapat adalah:

(1.000 x 10) – (1.000 x 1) = 10.000 – 1.000 = 9.000.

Andaikan tiap kebaikan A mendapat kelipatan 700, maka poin yang dia dapat:

(1.000 x 700) – (1.000 x 1) = 700.000 – 1.000 = 699.000.

Sekalipun si A bukan tergolong mukmin yang shalih, sekedar orang Muslim yang minimalis, namun karena Allah bermurah-hati  melipatgandakan perhitungan amal shalih untuk orang Muslim, maka dia menjadi orang yang beruntung di akhirat nanti.

Perhitungan di atas belum memasukkan unsur ampunan dari Allah.  Misalkan ada seorang Muslim berinisial C telah melakukan 1.000 amal shalih dan 10.000 amal buruk. Jika menggunakan matematika biasa, skor untuk si C adalah: 1.000 – 100.000 = -9.000. Dia akan menjadi penghuni neraka.

Namun jika menggunakan matematika pahala yang Allah telah tetapkan, maka didapat perhitungan yang berbeda. Katakan jika pahala si C hanya dilipatgandakan 10 x, dan dia mendapat ampunan 50% dari dosa-dosanya, maka perhitungannya sebagai berikut:

(1.000 x 10) – (10.000 x 50%) = 10.000 – 5.000 = 5.000.

Dengan matematika Allah, jadilah si C sebagai orang beruntung, diperbolehkan masuk surga.

Jadi, dengan perhitungan yang “tidak adil” dari matematika Allah ini, akan banyak Muslim yang terselamatkan. Jika menggunakan rumus matematika manusia, dia seharusnya masuk neraka, namun dengan rumus matematika Allah, dia masuk surga. Allah tetapkan rumus matematika yang “tidak adil” itu lantaran rahmat-Nya atau kasih sayang-Nya pada orang mukmin.

Itu sebabnya Rasulullah pernah bersabda, “Amal shalih seseorang di antara kamu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga dan tidak dapat menjauhkannya dari azab api neraka dan tidak pula aku, kecuali dengan rahmat Allah.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

Dalam riwayat lain: Rasulullah SAW telah bersabda, “Amal shalih seseorang di antara kamu sama sekali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula aku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528).

Akhir kata, mari kita senantiasa memohon taufik, hidayah, inayah, ampunan dan rahmat-Nya, agar senantiasa berada pada jalan-Nya, dan kelak masuk ke dalam surga-Nya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s